Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Bapanas Dorong Optimalisasi DMO Imbas Kenaikan Harga Minyak Goreng di 207 Kabupaten Kota
Advertisement . Scroll to see content

BPS Tepis Tudingan Intervensi Data, Buka-bukaan soal Rumitnya Metodologi Penghitungan Ekonomi

Selasa, 21 April 2026 - 19:08:00 WIB
BPS Tepis Tudingan Intervensi Data, Buka-bukaan soal Rumitnya Metodologi Penghitungan Ekonomi
BPS menepis tudingan sejumlah pihak yang menilai angka pertumbuhan ekonomi, khususnya pada kuartal II 2025 tidak sejalan dengan kondisi riil di lapangan. (Foto: iNews)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Badan Pusat Statistik (BPS) memberikan jawaban tegas atas keraguan publik mengenai validitas data pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2025. Hal ini sekaligus menepis tudingan sejumlah pihak yang menilai angka pertumbuhan ekonomi, khususnya pada kuartal II 2025 tidak sejalan dengan kondisi riil di lapangan.

Direktur Neraca Produksi BPS, Puji Agus Kurniawan menegaskan, lembaga yang dipimpinnya tetap independen dan bekerja berdasarkan standar internasional yang ketat.

“Tentang banyaknya sorotan kepada BPS soal data pertumbuhan ekonomi pada 2025, terutama kuartal II 2025, BPS menyajikan beberapa data untuk menghitung PDB (Produk Domestik Bruto). Kalau misal di luar (publik yang meragukan data BPS) menghitung atau mengestimasi, pasti variabelnya tidak sebanyak yang digunakan oleh BPS,” kata Puji dalam workshop wartawan di Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Puji menjelaskan, data BPS dihasilkan melalui Sistem Statistik Nasional yang diverifikasi oleh kantor statistik negara serta mematuhi prinsip dasar statistik resmi PBB (UN Fundamental Principles of Official Statistics).

Menurutnya, estimasi yang dilakukan publik seringkali hanya melihat variabel yang terbatas, sementara BPS menggunakan pendekatan yang jauh lebih kompleks.

Dalam penghitungan Produk Domestik Bruto (PDB), BPS menggunakan tiga pendekatan utama. Pendekatan Produksi (Lapangan Usaha) meliputi 17 variabel, mulai dari sektor pertanian, industri pengolahan, hingga jasa kesehatan, Pendekatan Pengeluaran meliputi 6 variabel, termasuk konsumsi rumah tangga, investasi (PMTB), hingga ekspor-impor dan Pendekatan Pendapatan mencakup kompensasi tenaga kerja hingga surplus usaha.

Puji menekankan bahwa setiap kategori memiliki metode penghitungan yang berbeda tergantung pada ketersediaan data teknis di lapangan.

“Kalau misalkan penjelasan lebih spesifik secara teknis, butuh waktu yang spesifik juga (untuk menjelaskan detail data statistik). Karena 17 kategori (pada pendekatan produksi), metodenya berbeda-beda, tergantung data yang tersedia,” ujarnya.

Berdasarkan catatan resmi BPS, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,11 persen di sepanjang tahun 2025. Perincian per kuartalnya adalah Kuartal I: 4,87 persen (yoy), Kuartal II: 5,12 persen (yoy), Kuartal III: 5,04 persen (yoy) dan Kuartal IV: 5,39 persen (yoy).

Lonjakan pada kuartal II sebesar 5,12 persen menjadi titik paling kritis yang disorot publik, mengingat angka tersebut muncul di tengah data sektoral lainnya yang tampak melemah.

Namun, BPS memastikan bahwa angka tersebut merupakan hasil akhir dari pengolahan data masif yang mencerminkan berbagai sektor ekonomi secara menyeluruh, tanpa ada campur tangan dari pihak mana pun.

BPS berharap masyarakat dapat melihat gambaran ekonomi secara lebih komprehensif melalui ribuan indikator yang dikelola, sehingga tidak hanya terpaku pada beberapa indikator sektoral tertentu dalam menilai pertumbuhan ekonomi nasional.

Editor: Aditya Pratama

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut