BI Tegaskan Fundamental Makro Ekonomi Solid, Optimistis Rupiah Kembali Menguat
JAKARTA, iNews.id - Bank Indonesia (BI) optimistis tekanan dari dinamika perekonomian global tidak menyurutkan pergerakan nilai tukar Rupiah yang telah menyentuh Rp17.535 per dolar AS hari ini. Otoritas moneter meyakini tren pelemahan Rupiah saat ini hanya bersifat sementara, mengingat fondasi makro ekonomi nasional terbukti masih sangat solid dibandingkan dengan banyak negara lain.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengatakan, gejolak pasar valuta asing bermula dari memanasnya konflik Timur Tengah pada akhir Februari 2026 yang memicu lonjakan harga minyak dunia hingga lebih dari 40 persen.
Situasi ini semakin diperberat oleh tingginya permintaan dolar di dalam negeri akibat musim repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, serta kebutuhan ibadah haji.
"Faktor dinamika global ini yang membuat mayoritas mata uang di dunia juga melemah. Tidak hanya rupiah, ada peso Filipina, baht Thailand, India rupee, hingga mata uang Amerika Selatan seperti di Chile dan won Korea Selatan," ujar Ramdan saat ditemui di Gedung BI, Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Melemah, Nilai Tukar Rupiah Rp17.529 per Dolar AS
Merespons tekanan sentimen eksternal tersebut, bank sentral bakal terus melakukan intervensi aktif melintasi berbagai zona waktu pasar uang internasional mulai dari Jakarta, Eropa, hingga Amerika. Upaya ini didasari oleh keyakinan penuh bahwa indikator perekonomian domestik memiliki daya tahan yang amat mumpuni.