Rupiah Rp17.500, Bond Market Intervention dan Kepercayaan
Achmad Nur Hidayat
Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta
MENGAPA pemerintah sampai harus turun langsung ke pasar obligasi ketika rupiah menembus Rp17.500 per dolar AS?
Pertanyaan ini penting karena pelemahan rupiah hari ini bukan lagi sekadar volatilitas biasa dalam mekanisme floating exchange rate.
Ini adalah sinyal meningkatnya market anxiety terhadap ketahanan ekonomi nasional.
Momen Purbaya Rapat Mendadak di Lobi Kemenkeu, Bahas Pelemahan Rupiah?
Ketika Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah siap masuk ke bond market untuk menjaga yield Surat Berharga Negara, pemerintah sesungguhnya sedang berusaha menahan tekanan psikologis pasar agar tidak berubah menjadi kepanikan finansial.
Dalam ekonomi global, kurs mata uang adalah barometer of confidence.
Orang Bilang Ekonomi Indonesia Bakal Hancur, Purbaya: Mereka Nggak Punya Data!
Ketika rupiah jatuh terlalu dalam, pasar sedang mengirim pesan bahwa tingkat kepercayaan terhadap arah ekonomi Indonesia mulai melemah.
Kondisi ini terjadi di tengah perfect storm global. Federal Reserve masih mempertahankan suku bunga tinggi melalui kebijakan higher for longer sehingga dolar AS tetap kuat.
Inflasi Indonesia Tinggi? Menkeu Purbaya: Masih Jauh!
Yield US Treasury yang tinggi mendorong capital outflow dari emerging markets, termasuk Indonesia.
Ketegangan geopolitik global juga memperparah situasi. Konflik Timur Tengah, perang Rusia-Ukraina, dan gangguan rantai pasok global membuat investor memilih strategi flight to quality dengan memindahkan dana ke aset safe haven berbasis dolar AS.
Purbaya Respons Kritik Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen: Jelek-Tinggi Ribut, Maunya Apa?
Namun tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari luar negeri.
Pasar mulai melihat adanya tekanan domestik yang serius. Rupiah Rp17.500 sudah jauh di atas asumsi APBN yang berada di kisaran Rp16.500 per dolar AS.
Ketika kurs bergerak terlalu jauh dari asumsi fiskal, risiko anggaran meningkat. Subsidi energi berpotensi membengkak, biaya impor naik, dan imported inflation menjadi lebih sulit dikendalikan.
Indonesia masih memiliki struktur ekonomi yang heavily import-dependent, terutama untuk energi, bahan baku industri, dan barang modal.
Akibatnya, setiap pelemahan rupiah langsung meningkatkan biaya produksi nasional. Dunia usaha menghadapi cost-push inflation, sementara daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.