Belajar dari Covid-19, New Normal Pendidikan
Bagi orang tua siswa dengan usia menengah ke atas mungkin tidak terlalu merasakan, tapi bagi yang punya anak sekolah dasar, urusan menjawab pesan di whatsapp hingga memastikan anak hadir depan komputer semua membutuhkan peran orang tua.
Dapat dibayangkan, keluarga yang jumlah anaknya lebih dari satu, rutinitas setiap pagi di rumah hangat dengan pembelajaran daring. Tidak semua orang tua siap, banyak dari mereka yang “pusing” karena jika biasanya meyerahkan semuanya urusan pendidikan anak kepada sekolah, kali ini mereka dituntut hadir dan dapat melayaninya langsung.
Belum lagi jika anak mendapatkan kesulitan dalam mencerna materi ajar, ayah atau ibunya yang pertama ditanya. Mau tidak mau harus siap, yang tentu menuntut orang tua harus kembali belajar.
Sejatinya pendidikan di rumah adalah pendidikan pertama dan utama, orang tua adalah gurunya, mereka tidak hanya harus menjadi teladan namun juga dituntut mampu mewujudkan sebuah kurikulum dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya. Saat pandemi melanda, ujian bagi peran orang tua pun sangat nyata.
Ki Hadjar Dewantara mengungkapkan tiga pusat pendidikan yang membutuhkan kolaborasi erat ketiganya demi tercapainnya tujuan pendidikan. Pertama adalah sekolah (guru), kedua rumah (orang tua) dan ketiga adalah lingkungan (masyarakat). Jika saja selama ini kita semua memahami peran masing-masing dalam pendidikan ini, tidak butuh adaptasi lama bagi masyarakat untuk menitipkan kegiatan sekolah di rumah seperti sekarang.