Bahlil: Saya Menteri yang Tak Suka Impor, karena Pasti Ada Rente!
Bahlil mengatakan, B50 yang akan diluncurkan pada Juli mendatang, maka Indonesia sudah tidak lagi melakukan impor bahan bakar jenis solar. Sebab sudah mampu dipenuhi dari dalam negeri, lewat campuran bahan bakar nabati seperti CPO (Crude Palm Oil).
"Ternyata sampai dengan B50 yang besok Juli akan kita Resmikan, itu menyelamatkan wajah Indonesia dari ketergantungan impor solar kita, mulai tahun ini kita tidak lagi impor solar," ucapnya.
Bahlil memaparkan, konsumsi solar nasional meningkat dari 33,49 juta KL pada 2020 menjadi 40,2 juta KL pada 2026. Kebutuhan tersebut dipenuhi dari kombinasi produksi kilang domestik, impor, dan biodiesel berbasis Fatty Acid Methyl Ester (FAME). Porsi FAME terus meningkat dari 8,4 juta KL pada 2020 menjadi 20,1 juta KL pada 2026.
Pada saat yang sama, impor solar berhasil ditekan. Setelah sempat mencapai 8,02 juta KL pada 2024, volume impor diproyeksikan turun menjadi 4,9 juta KL pada 2025 dan bahkan nol pada 2026, seiring meningkatnya kontribusi biodiesel dan produksi domestik.
Produksi solar dari kilang dalam negeri juga relatif stabil di kisaran 18-21 juta KL, sehingga tambahan kebutuhan dapat dipenuhi melalui pencampuran biodiesel.
Editor: Aditya Pratama