Agresi Militer Belanda 2: Latar Belakang, Sejarah, Isi dan Kronologi
Lima pesawat Mustang dan sembilan pesawat Kittyhawk menghujani lapangan terbang itu dengan bom dan tembakan. Melihat hal tersebut, Kabinet mengadakan sidang kilat.
Dalam sidang kilat tersebut diambil keputusan bahwa pimpinan negara tetap tinggal dalam kota agar dekat dengan Komisi Tiga Negara (KTN) sehingga kontak-kontak diplomatik dapat diadakan.
Belanda mengasingkan tokoh Indonesia yang telah tertangkap sebelumnya. Soekarno, Sutan Sjahrir dan Agus Salim diasingkan ke Berastagi dan Parapat, Sumatera Utara.
Sedangkan Mohammad Hatta, Mr Asaat, Mr AG Pringgodigdo dan RS Soerjadarma turut diturunkan di Pelabuhan Kampung Dul Pangkalpinang, Pulau Bangka. Keempat tokoh tersebut dibawah ke Bukit Menumbing Mentok.
Soekarno membuat surat kuasa kepada Menteri Kemakmuran, Mr Syafruddin Prawiranegara sebelum dirinya ditangkap. Ia diberikan kuasa untuk mengambil alih pemerintah pusat dan membentuk Pemerintah Darurat Republik Indonesia atau PDRI.
Tak hanya di Sumatera, berbagai perlawanan dilakukan di berbagai daerah Tanah Air. Jenderal Soedirman memilih pergi dari Yogyakarta dan melakukan serangan gerilya ke berbagai tempat di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Agresi militer Belanda 2 ternyata kembali mendapatkan kecaman dunia termasuk dari PBB atau Perserikatan Bangsa-Bangsa. PBB memerintahkan agar Belanda mematuhi isi Perundingan Renville.
Pada akhirnya, Belanda membebaskan Soekarno dan Hatta di tanggal 6 Juli 1949 usai didesak oleh PBB. Lalu Indonesia dan Belanda melakukan Perjanjian Roem Royen setelah agresi militer Belanda 2 dihentikan.
Demikian ulasan mengenai Agresi Militer Belanda 2. Semoga informasi ini bermanfaat bagi pembaca setia iNews.id di mana berada.
Editor: Johnny Johan Sompotan