4 Tokoh Penting dalam Pertempuran 10 November Beserta Biografinya Singkat
Pada Pertempuran Surabaya, Gubernur Soerjo mendeklarasikan bahwa Surabaya harus dipertahankan. Pemerintah pusat di Jakarta telah menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada Gubernur Soerjo.
Melalui pidato pada 9 November 1945, Gubernur Soerjo menyerukan kepada warga Surabaya untuk melawan Sekutu guna mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Seruan tersebut segera dilakukan oleh warga Surabaya yang berjuang pada Pertempuran Surabaya. Pada 10 November 1948, Gubernur Soerjo meninggal dunia.
Saat terjadi Pertempuran Surabaya, Mayjen Sungkono menjabat sebagai Komandan BKR (Badan Keamanan Rakyat). Ia bertanggung jawab atas pertahanan dan keamanan. Pada Pertempuran 10 November itu, Mayjen Sungkono menjadi pimpinan pasukan di Kota Surabaya.
Berbekal senjata ala kadarnya, ia gigih melawan pasukan penjajah yang mempunyai senjata serta pengalaman yang mumpuni. Sebelum pertempuran, pada 9 November 1945, Mayjen Sungkono sempat memberi semangat para pejuang melalui pidatonya.
Sungkono lahir di Purbalingga, 1 Januari 1911. Pada 1928, ia lulus dari HIS dan melanjutkan ke MULO. Kemudian, ia meneruskan ke Zenfon Telling. Ia juga memperoleh pendidikan militer dari Sekolah Teknik Perkapalan di Makassar selama dua tahun. Usai Indonesia merdeka, Sungkono bergabung dengan BKR.