Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Menkes Budi Calon Kuat Jadi Dirjen WHO Berikutnya versi Health Policy Watch
Advertisement . Scroll to see content

4 Alasan Menkes Budi Jadi Calon Kuat Bos WHO, Nomor 3 Mengejutkan!

Rabu, 25 Februari 2026 - 16:33:00 WIB
4 Alasan Menkes Budi Jadi Calon Kuat Bos WHO, Nomor 3 Mengejutkan!
Menkes Budi dicalonkan jadi Bos WHO. (Foto: Istimewa)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Nama Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin masuk dalam daftar kandidat terkuat Direktur Jenderal World Health Organization (WHO) versi Health Policy Watch. Apa alasannya? 

Di tengah tantangan besar yang dihadapi WHO, ada sejumlah faktor yang membuat Menkes Budi dinilai layak diperhitungkan. Salah satunya kemampuan dia di bidang tata kelola keuangan yang sudah terbukti berhasil di Indonesia. 

Menurut Health Policy Watch, berikut empat alasan Menkes Budi difavoritkan menjadi bos WHO. Simak pembahasan selengkapnya hanya di artikel ini. 

Menkes Budi calon kuat jadi Dirjen WHO berikutnya. (Foto: Instagram)
Menkes Budi calon kuat jadi Dirjen WHO berikutnya. (Foto: Instagram)

4 Alasan Menkes Budi Difavoritkan Jadi Bos WHO

1. Kuat di Tata Kelola dan Keuangan

WHO saat ini menghadapi tekanan fiskal serius, termasuk isu defisit anggaran dan tuntutan transparansi pendanaan. Latar belakang Menkes Budi sebagai mantan bankir dan pimpinan sejumlah perusahaan besar dinilai menjadi nilai tambah.

Kemampuan manajerial dan ketelitian finansial dianggap penting untuk memperbaiki tata kelola serta memastikan keberlanjutan pendanaan organisasi global tersebut.

2. Pengalaman Reformasi Sistem Kesehatan Besar

Meski bukan berlatar belakang pendidikan medis, rekam jejak dia sebagai Menteri Kesehatan Indonesia menjadi sorotan. Pascapandemi Covid-19, dia mendorong reformasi sistem kesehatan berskala nasional.

Transformasi yang dilakukan mencakup pembenahan layanan primer, perubahan regulasi pendidikan kedokteran, hingga restrukturisasi sistem pembiayaan kesehatan. Langkah-langkah itu dinilai menunjukkan kapasitas kepemimpinan dalam situasi krisis dan perubahan besar.

3. Modernisasi Digital Kesehatan

Salah satu poin yang disorot adalah percepatan digitalisasi layanan kesehatan Indonesia. Penguatan infrastruktur kesehatan digital dinilai sebagai langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi, transparansi, dan akses layanan.

Di era pascapandemi, 'digital health' menjadi agenda penting global. Pengalaman ini dinilai relevan dengan arah kebijakan WHO ke depan yang semakin menekankan integrasi teknologi dalam sistem kesehatan.

4. Potensi Menjembatani Kepentingan Global

WHO saat ini menghadapi dinamika geopolitik yang kompleks, termasuk hubungan dengan negara-negara donor utama dan negara berkembang. Budi dinilai memiliki posisi strategis sebagai representasi negara berkembang dengan ekonomi besar.

Dia disebut berpotensi menjembatani kepentingan negara-negara Global South dan Eropa dalam isu reformasi fiskal dan transparansi. Selain itu, figur teknokrat seperti Menkes Budi dinilai dapat membantu menjaga stabilitas hubungan dengan negara-negara mitra utama WHO.

Meski proses pencalonan resmi masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan, masuknya nama Menkes Budi dalam daftar kandidat kuat menunjukkan bahwa kiprah Indonesia di panggung kesehatan global semakin diperhitungkan.

Sebagai informasi, kompetisi mencapai jabatan bos WHO akan sangat panjang dan kompleks. Secara resmi proses pencalonan dimulai April 2026 dan berakhir Oktober 2026, dilanjutkan seleksi oleh Dewan Eksekutif WHO pada awal 2027. Tiga calon teratas akan diajukan ke World Health Assembly untuk pemungutan suara final pada Mei 2027. Pemenang akan menjabat mulai Agustus 2027.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut