Sejarah Jalan TB Simatupang: dari Kebun Tebu Era Kolonial Jadi Jalan dengan Macet Terparah di Jakarta
Tol JORR bagian selatan mulai dibangun sekitar tahun 1995, dan Jalan TB Simatupang menjadi jalur penting yang mengarahkan arus kendaraan dari timur ke selatan tanpa harus melewati pusat kota. Kehadiran jalan ini menjadi bagian integral dari strategi besar mengurangi beban kemacetan Jakarta.
Nama TB Simatupang dipilih untuk menghormati Letnan Jenderal Tahi Bonar Simatupang, tokoh militer yang berperan penting dalam Revolusi Nasional Indonesia. Ia menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Bersenjata RI setelah wafatnya Jenderal Soedirman pada 1950–1953.
Simatupang dikenal sebagai pemimpin yang menekankan profesionalisme militer dan berpikir jauh ke depan. Pada 2013, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya. Dengan demikian, jalan ini tidak hanya sekadar infrastruktur, tetapi juga monumen hidup yang mengabadikan jasa seorang patriot bangsa.
Awalnya berperan sebagai jalan arteri, TB Simatupang kemudian berkembang menjadi kawasan komersial. Sepanjang jalurnya berdiri gedung-gedung kementerian, rumah sakit besar seperti RS Fatmawati dan RSUD Pasar Minggu, hingga pusat perbelanjaan seperti Cilandak Town Square.
Transformasi ini membawa dampak ganda. Di satu sisi, kawasan ini menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Namun di sisi lain, tingginya volume kendaraan pribadi dan komersial membuat TB Simatupang menjadi salah satu titik macet paling kronis di Jakarta, terutama pada jam kerja.