Pedagang Curhat Kerap Dibebankan terkait Pergerakan Harga, Minta Bantuan Pemerintah
Di awal Ramadan tahun ini, harga beras di lapaknya untuk semua jenis terpaksa naik Rp500, seperti beras dengan jenama Ramos yang dibanderol Rp17.000 per kg.
"Kami kalau harga tergantung dari pasar induk. Kalau di sana ada kenaikan, ya mau enggak mau kami di pasar juga naik," tuturnya.
Bagi pedagang seperti Suparman dan Efendi, harga menjadi penentu omzet. Semakin harga naik dan mahal, maka konsumen bakal mencari harga yang paling ekonomis.
"(Harapan) ke pemerintah, jangan sampai naik lagi (harga). Harga segini ini udah berat. Masyarakat ini, masalah beli daging itu udah enggak kuat kayaknya. Ya mudah-mudahan jangan sampai naik lagi harga daging ini," kata Suparman.
Adapun, pemerintah mencoba menjaga ketersediaan stok dan kestabilan harga. Seperti Perum Bulog yang menyuplai beras medium dan Minyakita dalam jumlah yang diprediksi cukup untuk kebutuhan Ramadan kali ini.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras diproyeksikan mencapai 10,16 juta ton pada periode Januari-Maret 2026, meningkat 1,39 juta ton dibandingkan produksi beras Januari-Maret 2025.
Kemudian, Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang akan membantu ketersediaan stok seperti cabai di pasaran dari salah satu produsen di Magelang, Jawa Tengah. Selain itu, Bapanas akan mensubsidi biaya distribusi cabai dari produsen ke tangan pedagang di pasar induk.
Editor: Aditya Pratama