Trump Terus Serang Harvard, Bagaimana Nasib Mahasiswa Asing di AS?
Istana Kerajaan Belgia bahkan menyatakan masih meninjau dampak kebijakan imigrasi Trump terhadap kelanjutan studi sang putri.
Pemerintahan Trump menuduh Harvard memfasilitasi kekerasan, antisemitisme, dan berafiliasi dengan musuh ideologis AS seperti Partai Komunis China. Tudingan ini dijadikan dasar untuk menghentikan akses Harvard terhadap sistem imigrasi pelajar dan membekukan hibah senilai dua miliar dolar AS.
Langkah ini dianggap sebagai bentuk tekanan politik terhadap kampus-kampus yang menolak mengikuti garis kebijakan pemerintah.
Namun, universitas-universitas tersebut, termasuk Harvard, menolak tunduk. Mereka menegaskan komitmen terhadap kebebasan akademik dan keberagaman global sebagai bagian dari nilai inti pendidikan tinggi.
Apa yang sebelumnya dianggap sebagai tempat netral untuk pertukaran ilmu pengetahuan kini menjadi wilayah yang sarat tekanan politik dan ideologis. Mahasiswa asing, selama ini menjadi jembatan budaya dan intelektual antarnegara, kini merasa tidak aman, tidak diinginkan, dan dipolitisasi.
Padahal, sejarah panjang perguruan tinggi AS ditopang oleh kontribusi besar mahasiswa internasional dalam riset, inovasi, dan dialog lintas budaya. Banyak dari mereka datang bukan hanya untuk menimba ilmu, tetapi juga untuk berkontribusi dalam membangun masa depan dunia yang lebih terbuka.
Bagi mahasiswa asing, persoalannya bukan hanya soal visa. Ini soal pengakuan, keamanan, dan keadilan. Ketika aturan main akademik diubah sepihak karena ketegangan politik, maka yang dipertaruhkan bukan hanya masa depan individu—tetapi juga reputasi global AS sebagai pusat pendidikan dan inovasi.
Jika langkah-langkah seperti ini terus diambil, bukan tidak mungkin AS akan kehilangan statusnya sebagai tujuan utama bagi para pencari ilmu dari seluruh dunia. Dan itu bukan hanya kerugian bagi mahasiswa asing, tapi juga bagi Amerika sendiri.
Editor: Anton Suhartono