Tak Bisa Pulang Kampung, Pembantu di Singapura Saksikan Suami Temui Ajal lewat Video Call
“Sangat sulit bagi saya untuk menerima bahwa dia telah pergi, tetapi lebih sulit untuk menghadapinya ketika saya jauh dari keluarga saya, anak-anak saya,” kata Gelerina yang terakhir kali pulang kampung pada November 2019.
Sebagai majikan, Tara mencoba melakukan yang terbaik untuk pembantunya itu. Dia berusaha menghibur dan menenangkan hati Gelerina saat menghadapi momen yang menyesakkan dada itu. “Kami menyaksikannya (suami Gelerina) mengembuskan napas terakhir, dan kemudian matanya tertutup. Peristiwa itu sangat, sangat sulit untuk disaksikan,” kata Tara kepada The Straits Times, belum lama ini.
Tak hanya menghibur hari Gelerina, Tara juga memberikan uang kepada pembantunya itu, untuk biaya pemakaman sang suami. Dia juga mengundang salah satu teman Gelerina di Singapura ke apartemennya untuk menemani perempuan yang sedang dirundung duka itu.
Menurut Tara, para majikan perlu menunjukkan lebih banyak empati dan pengertian kepada para pembantu rumah tangga mereka, apalagi di tengah tekanan yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19. “Kita harus memiliki rasa kemanusiaan yang mendasar dan bertanya pada diri sendiri bagaimana perasaan kita jika kita berada dalam situasi mereka,” ucap Tara yang juga pensiunan dosen universitas itu.
“Pekerja rumah tangga biasanya sangat dekat dengan keluarganya dan banyak dari mereka meninggalkan suami dan anak-anaknya dan bekerja untuk kita. Sudah dua tahun sejak Covid-19, dan tragedi seperti itu pasti akan terjadi saat ini, dan kita perlu tunjukkan pada mereka kemurahan hati,” tuturnya.
Gelerina berasal dari Bacnotan, La Union, Filipina, sekitar 280 km dari Ibu Kota Manila. Dia dan mendiang suaminya memiliki tiga anak, yaitu seorang putri berusia 27 tahun yang bekerja sebagai tenaga kesehatan, dan; dua putra masing-masing berusia 15 dan 16 tahun, yang masih duduk di bangku sekolah menengah. Ketiga kakak beradik itu tinggal bersama di rumah orang tua mereka.
Editor: Ahmad Islamy Jamil