Suriah: Rudal S-300 Rusia Buat Israel Berpikir Ulang untuk Menyerang
DAMASKUS, iNews.id - Wakil Menteri Luar Suriah Faisal Mekdad memperingatkan Israel agar berpikir dua kali sebelum menyerang negaranya. Pasalnya, Suriah akan diperlengkapi sistem pertahanan canggih rudal S-300 Rusia.
Peringatan itu muncul menyusul janji Rusia yang akan memasok sistem pertahanan terbaru setelah pesawatnya ditembak jatuh oleh rudal Suriah. Saat kejadian, Israel sedang membombardir Suriah dan dituduh menjadikan pesawat intai Rusia sebagai tameng.
Rudal S-300, kata Mekdad, seharusnya sudah diberikan ke Suriah sejak lama.
"Israel yang biasa melakukan banyak agresi dengan berbagai alasan perlu membuat perhitungan akurat sebelum kembali menyerang Suriah,” kata Mekdad, seperti dilaporkan Haaretz, Kamis (27/9/2018).
Tak Gentar Hadapi S-300 Rusia, Israel Lanjutkan Operasi di Suriah
"Jika Israel mencoba menyerang, kami akan membela rakyat kami seperti yang kami lakukan di masa lalu."
Pada Senin (24/9/2018), Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu mengumumkan negaranya akan mentransfer sistem rudal permukaan-ke-udara S-300 ke rezim Bashar Al Assad dalam waktu dua pekan.
Rusia Pasok Rudal S-300 ke Suriah, Netanyahu Beri Peringatan ke Putin
Dia mengatakan, keputusan untuk mentransfer S-300 tidak ada hubungannya dengan ketegangan dengan Israel dan bahwa tujuan dari langkah itu adalah melindungi tentara Rusia di Suriah.
Presiden Rusia Vladimir Putin juga mengaku sudah membahas keputusan itu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Pesawatnya Dijadikan Tameng Israel, Rusia Kirim Rudal S-300 ke Suriah
Sebelumnya diberitakan, pesawat pemantau militer Rusia Il-20 ditembak jatuh pasukan udara Suriah yang keliru mengira pesawat itu milik Israel, sehingga menewaskan 15 kru dan penumpangnya.
Rusia tidak menuntut pertangungjawaban Suriah melainkan menyalahkan Israel. Rusia menyatakan jet-jet tempur Israel bersembunyi di balik pesawat Rusia tersebut.
Pesawatnya Ditembak Jatuh, Rusia Tutup Jalur Udara dan Laut di Suriah
Namun, Israel membantah tuduhan itu.
Editor: Nathania Riris Michico