Sosok Saif Al Islam, Putra Eks Pemimpin Libya Muammar Gaddafi yang Ditembak Secara Brutal
Namun citra reformis itu runtuh saat gelombang Arab Spring melanda Libya pada 2011. Saif Al Islam tampil di televisi nasional dengan pidato keras, membela pemerintahan ayahnya, seraya memperingatkan bahwa Libya akan tenggelam dalam kekacauan jika rezim tumbang.
Pernyataan tersebut membuatnya dipandang sebagai bagian tak terpisahkan dari tindakan represif rezim Gaddafi.
Setelah Muammar Gaddafi tewas secara mengenaskan pada Oktober 2011, Saif Al Islam menjadi salah satu buronan paling dicari. Dia kemudian ditangkap oleh milisi Zintan di Libya barat pada November 2011 saat berusaha melarikan diri ke Niger.
Dalam penangkapan itu, Saif Al Islam mengalami luka parah di tangan kanan, yang disebut-sebut akibat tembakan. Kondisinya sempat memicu simpati sekaligus kontroversi, karena proses penahanan dilakukan oleh kelompok bersenjata non-negara, bukan otoritas resmi.
Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) di Den Haag, Belanda, menuntut Saif Al Islam atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan terkait penindasan berdarah terhadap demonstran pada 2011. Namun hingga kini, proses hukum internasional terhadapnya tak pernah benar-benar tuntas.
Saif Al Islam kembali menjadi sasaran kekerasan bersenjata. Penembakan brutal yang menimpanya pada 4 Februari menambah daftar panjang episode kekerasan dalam hidupnya sejak runtuhnya kekuasaan keluarga Gaddafi.
Dia ditembak 18 kali hingga tewas di rumahnya di Kota Zintan. Hingga kini, detail resmi mengenai pelaku dan motif pasti belum diketahui.
Editor: Anton Suhartono