Sosok Anas Al Sharif, Jurnalis Al Jazeera yang Gugur Dibom Israel
Anas kerap menjadi target ancaman, mulai dari panggilan telepon, pesan suara, hingga kampanye diskreditasi di media sosial, yang menuduhnya sebagai “teroris” tanpa bukti. CPJ menilai ancaman-ancaman tersebut sebagai “pendahuluan terhadap pembunuhan” dan menyerukan perlindungan segera.
Sesaat sebelum tewas, Anas sempat mengunggah video di akun X, memperlihatkan gempuran udara Israel di Kota Gaza—kilatan oranye di langit dan dentuman bom yang menggetarkan tanah. “Pengeboman tanpa henti, agresi Israel meningkat dalam dua jam terakhir,” ucapnya, dalam video itu.
Pada 6 April 2025, Anas menulis pesan yang dirilis setelah kematiannya. Dalam tulisannya, ia menggambarkan penderitaan yang dialami rakyat Gaza:
“Saya telah mengalami kepedihan dalam semua detail, merasakan penderitaan dan kehilangan berkali-kali, namun saya tak pernah ragu menyampaikan kebenaran apa adanya, tanpa distorsi atau pemalsuan… agar Allah menjadi saksi bagi mereka yang tetap diam, mereka yang menerima pembunuhan terhadap kami… dan yang hatinya tak tergerak oleh mayat anak-anak dan perempuan yang bergelimpangan.”
CPJ menyatakan keprihatinan mendalam atas kematian Anas. “Jurnalis adalah warga sipil dan tidak boleh disasar. Mereka yang bertanggung jawab harus dimintai pertanggungjawaban,” tegas organisasi itu.
Pelapor khusus PBB, Irene Khan, juga menyoroti ancaman serius terhadap kebebasan berekspresi di Gaza, khususnya bagi jurnalis lokal Palestina yang menjadi “mata dan telinga dunia” di wilayah yang hampir mustahil dijangkau media internasional.
Gugurnya Anas Al Sharif menambah panjang daftar jurnalis yang tewas di Gaza sejak perang berkecamuk. Kisah hidupnya menjadi simbol keberanian dan komitmen jurnalis yang memilih tetap berada di garis api demi menyampaikan kebenaran kepada dunia.
Editor: Anton Suhartono