Presiden Prancis Macron Kecam Anti-Semitisme, Tegaskan Lawan Kebencian
YERUSALEM, iNews.id - Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan menentang anti-Semitisme, selama kunjungan ke Yerusalem untuk memperingati korban Holocaust. Dia mengatakan peristiwa itu masih menghantui hingga masa kini.
Pemimpin Prancis itu berada di Yerusalem menjelang pertemuan para pemimpin dunia di sana pada Kamis (23/1/2020) untuk menandai peringatan 75 tahun pembebasan kamp kematian Auschwitz.
Dalam sebuah pesan ke pusat peringatan Yad Vashem Holocaust di Yerusalem, yang akan menjadi tuan rumah acara tingkat tinggi itu, Macron berbicara tentang warga Prancis dan negara lain yang menjadi sasaran karena mereka adalah orang Yahudi.
"Kembalinya kebencian ini menghantui masa kita sekarang," katanya, dalam teks yang diterbitkan oleh harian Israel, Yediot Aharonot, seperti dikutip AFP.
Memerangi anti-Semitisme merupakan tema utama acara Kamis, yang akan mengingat peristiwa lebih dari satu juta orang Yahudi terbunuh di Auschwitz selama Perang Dunia II.
BACA JUGA: Kunjungi Yerusalem, Presiden Prancis Macron Akan Temui Netanyahu dan Mahmoud Abbas
"Pertarungan melawan anti-Semitisme ini, saya pimpin setiap hari dengan menanganinya dalam pidato, perilaku, di internet," kata Macron.
Dia mengundang platform digital dan otoritas publik, serta masyarakat sipil dan individu, untuk campur tangan menghapus konten yang penuh kebencian.
"Tidak mengatakan apa-apa, dan berpaling, membuat dirimu (menjadi) kaki tangan," ujarnya.
Menjelang peringatan besok, yang dihadiri oleh pejabat tinggi dari lebih dari 40 negara, Macron akan mengadakan serangkaian pertemuan tingkat tinggi.
Dia memulai kunjugannya di Yerusalem dengan bertemu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, sebelum berbicara dengan Presiden Israel Reuven Rivlin.
Israel akan kembali mengadalan pemilu pada 2 Maret, dan Macron juga akan bertemu dengan saingan terberat Netanyahu, Benny Gantz.
Presiden Prancis itu juga berencana bertolak ke Ramallah di Tepi Barat yang diduduki untuk melakukan pertemuan dengan Presiden Palestina Mahmud Abbas.
Editor: Nathania Riris Michico