Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Guru Madrasah Mengadu ke DPR: Mengabdi 25 Tahun, Gaji Masih Rp300.000
Advertisement . Scroll to see content

Pemilihan Perdana Menteri Thailand Digelar Lagi Pekan Depan, Pita Limjareonrat Tak Bisa Nyalon

Kamis, 20 Juli 2023 - 13:19:00 WIB
Pemilihan Perdana Menteri Thailand Digelar Lagi Pekan Depan, Pita Limjareonrat Tak Bisa Nyalon
Pemimpin Partai Bergerak Maju (MFP), Pita Limjareonrat. (Foto: Reuters)
Advertisement . Scroll to see content

BANGKOK, iNews.id – Parlemen Thailand bakal mengadakan pemungutan suara lagi untuk memilih perdana menteri pada pekan depan. Pemimpin Partai Bergerak Maju (MFP), Pita Limjareonrat, tidak dapat diikutkan lagi dalam kompetisi politik itu. 

Sebelumnya, Pita sudah dua kali gagal memperebutkan kursi perdana menteri dalam pemungutan suara yang digelar Parlemen Thailand pada Kamis (13/7/2023) pekan lalu dan Rabu (19/7/2023) kemarin. Langkah politikus muda itu untuk meraih jabatan kepala pemerintahan selalu mendapat rintangan dari politisi pro-militer di negeri Gajah Putih.

“Seorang kandidat hanya dapat dicalonkan satu kali dalam setiap sesi parlemen,” kata Wakil Ketua DPR Thailand,Pichet Chuamuangphan, kepada Reuters, Kamis (20/7/2023).

Pita, politikus berusia 42 tahun yang juga berpendidikan Amerika, menghadapi perlawanan keras dari kekuatan politik konservatif dan pendukung kerajaan yang berbenturan dengan kebijakan partainya yang antikemapanan.

Pada Rabu kemarin, parlemen memilih untuk memblokir pencalonan Pita sebagai PM untuk kedua kalinya. Sementara itu, Mahkamah Konstitusi (MK) Thailand menangguhkannya sebagai anggota parlemen, gara-gara penyelidikan terkait tuduhan yang menyebut Pita memiliki saham di perusahaan media. 

Menurut hukum yang berlaku di Thailand, seorang anggota parlemen tidak boleh memiliki saham di media. Namun, Pita membantah melanggar aturan pemilu itu.

Penjegalan Pita di parlemen dan  memicu unjuk rasa oleh massa pendukungnya, kemarin. Krisis politik di negara berjuluk “Lumbung Padi Asia Tenggara“ itu pun semakin dalam, setelah MFP memenangkan pemilu pada Mei lalu.

“Jika kita mengadakan pemilu dan hanya ini yang kita dapatkan, mengapa kalian tidak memilihnya sendiri,” kata seorang pengunjuk rasa pada Rabu malam, yang disambut tepuk tangan dari kerumunan yang berkumpul di pusat kota Bangkok.

Indeks saham utama Thailand (.SETI) naik sekitar 2,6 persen sejak 14 Juli, sehari setelah pencalonan Pita sebagai PM ditolak untuk pertama kalinya oleh parlemen. Pada saat yang sama, nilai tukar mata uang baht pun menguat sebesar 1,7 persen terhadap dolar AS.

Pekan depan, taipan real estat dan pendatang baru dalam pentas politik Thailand, Srettha Thavisin, akan dicalonkan sebagai perdana menteri. Srettha berasal partai pemenang kedua dalam pemilu lalu, yakni Pheu Thai, dan juga menjadi bagian dari aliansi delapan partai pimpinan Pita.

Konstitusi Thailand—yang dirancang oleh militer untuk mendukung partai-partai konservatif—mengharuskan calon perdana menteri mengantongi setidaknya 375 suara dari sidang parlemen gabungan (DPR dan Senat). 

DPR Thailand beranggotakan 500 orang yang terdiri atas politisi pemenang pemilu. Sementara Senat Thailand diisi oleh 250 senator yang semuanya ditunjuk oleh junta militer. 

Editor: Ahmad Islamy Jamil

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut