Paul Alexander, Pria yang Hidup dengan Paru-paru Besi Lebih dari 70 Tahun setelah Terkena Virus Polio
Karena semakin memburuk, Paul Alexander pun dilarikan ke rumah sakit orang tuanya. Di sana, ia berjuang untuk bernapas dan menelan walaupun orang tuanya sempat diberitahu bahwa sang putra tidak akan selamat.
"Saya tidak bisa bergerak. Saya bahkan tidak dapat berbicara, jadi staf rumah sakit menempatkan saya di brankar yang ada di sebuah lorong panjang dengan semua anak yang juga terkena. Kebanyakan dari mereka sudah meninggal," kata Paul, dikutip iNews.id dari situs HealthDay, Jumat (16/6).
Melihat kondisinya yang tak membaik, dokter pun akhirnya melakukan trakeostomi darurat untuk menyelamatkan nyawanya. Tiga hari kemudian, Paul Alexander terbangun di dalam sebuah besi panjang yang menutupi seluruh tubuhnya kecuali leher dan kepalanya.
Tak sendirian, Paul Alexander bersama pasien polio lain di bangsal paru-paru besi yang ada di rumah sakit tersebut. Ia yang tak dapat bergerak, sehingga berkomunikasi dengan perawat dan dokter menggunakan cermin yang terpasang pada struktur paru-paru besi atau speakerphone.
Selama berbulan-bulan, Paul Alexander menghabiskan hari-harinya di rumah sakit. Banyak dari rekan sesama penyintas polio yang akhirnya dinyatakan meninggal dunia.