Mengkhawatirkan, Sepertiga Penyintas Covid Alami Gangguan Otak dan Kejiwaan
Psikiater lainnya dari Oxford, Max Taquet, yang bekerja sama dengan Harrison, mencatat bahwa penelitian itu tidak dapat memeriksa mekanisme biologis maupun psikologis yang terlibat dalam memunculkan gangguan otak atau kejiwaan tersebut. Karenanya, penelitian lanjutan sangat diperlukan untuk mengidentifikasi persoalannya.
“(Penelitian lanjutan) itu dengan maksud untuk mencegah atau mengobati gangguan-gangguan tersebut,” ujar Taquet.
Para pakar kesehatan semakin prihatin dengan temuan tentang risiko gangguan otak dan kesehatan mental yang lebih tinggi di antara para penyintas Covid-19. Studi sebelumnya (oleh peneliti yang sama) pada tahun lalu menemukan bahwa 20 persen penyintas Covid-19 didiagnosis dengan gangguan kejiwaan dalam tiga bulan.
Sementara, studi kali ini—yang diterbitkan dalam jurnal Lancet Psychiatry—menganalisis catatan kesehatan dari 236.379 pasien Covid-19 yang sebagian besar berasal dari Amerika Serikat. Hasilnya, para peneliti menemukan bahwa 34 persen dari pasien itu didiagnosis dengan penyakit neurologis atau gangguan kejiwaan yang berlangsung dalam waktu enam bulan.
Menurut para ilmuwan, gangguan tersebut secara signifikan lebih umum pada pasien Covid-19 daripada pada kelompok pembanding orang yang sembuh dari flu atau infeksi saluran pernapasan lainnya dalam periode waktu yang sama. Temuan ini menunjukkan bahwa Covid-19 memiliki dampak khusus.