Media Asing Soroti Kecelakaan Tambang Emas di Solok Sumbar yang Tewaskan 15 Orang
Pada Jumat pagi, polisi dan personel TNI masih mencari orang-orang yang hilang, bersamaan dengan langkah-langkah untuk mengevakuasi korban tewas.
The Associated Press (AP) melansir, upaya pencarian di daerah yang paling parah terkena dampak bencana, dekat Nagari Sungai Abu, terhambat oleh tanah longsor yang menutupi sebagian besar wilayah. Keadaan makin diperparah dengan pemadaman listrik dan kurangnya jaringan telekomunikasi.
"Operasi penambangan tak resmi banyak ditemui di Indonesia, memberikan penghidupan yang tidak menentu bagi ribuan orang yang bekerja dalam kondisi berisiko tinggi terhadap cedera serius atau kematian," tulis AP.
"Longsor, banjir, dan runtuhnya terowongan hanyalah beberapa bahaya yang dihadapi para penambang. Sebagian besar pemrosesan bijih emas melibatkan merkuri dan sianida yang sangat beracun dan para pekerja sering kali menggunakan sedikit atau tidak ada perlindungan sama sekali," kata media yang berkantor pusat di New York, AS, itu lagi.
AP juga membeberkan fakta kecelakaan "tambang rakyat" lainnya di Tanah Air. Menurut data yang dihimpun media itu, kecelakaan besar terakhir yang terkait dengan pertambangan di Indonesia terjadi pada Juli lal. Ketika itu, tanah longsor menghantam tambang emas tradisional ilegal di Provinsi Gorontalo, menewaskan sedikitnya 23 orang.
Pada April 2022, tanah longsor melanda tambang emas lainnya di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, menewaskan 12 perempuan.
Pada Februari 2019, sebuah bangunan kayu sementara di sebuah tambang emas ilegal di Provinsi Sulawesi Utara runtuh sebagian karena pergeseran tanah. Lebih dari 40 orang terkubur.
Editor: Ahmad Islamy Jamil