Kisah Keluarga Gaza Tolak Mengungsi meski Dibom Israel: Tanah Kami hanya 1, Palestina!
“Rasanya seperti mengulang kembali setiap hari yang kami jalani di sini, makan bersama teman-teman, menari dengan ibu, tidur dengan bayi, menangis karena hari yang buruk, belajar untuk soal-soal sekolah, berinovasi di dapur dan memasak makan malam favorit, semuanya lenyap dalam hitungan detik,” ujarnya, kepada Al Jazeera.
Meski tinggal di daerah rawan dan panas, mereka masih mendapat akses makanan dan perawatan medis.
Amal menegaskan, keluarganya sepakat tak akan meninggalkan Kota Gaza apa pun yang terjadi. Bahkan jika ada kesempatan untuk pindah ke Gaza Selatan atau ke mana pun. Israel membuat zona kematian yang membelah Gata Utara dan Selatan. Siapa saja yang memintas tanpa izin akan ditembak mati.
Selain itu, kata Amal, alasan mereka menetap di Kota Gaza adalah tak ada jaminan mereka akan selamat jika mengungsi ke selatan. Pasalnya sejak gencatan senjata kemanusiaan berakhir, Israel juga membombardir Khan Younis hingga Rafah, perbatasan dengan Mesir.
“Kami bisa bangun rumah lagi, kami akan lakukan itu. Tapi kami tidak bisa punya tanah lain yang kami sebut rumah. Kami hanya punya satu, dan itu adalah Palestina,” ujar Abu Rushdi, kakek Amal.