Kisah Heroik Jenderal Rusia, Tangguh Bertempur meski Peluru Menembus Mata
"Namun, berkat rencana cerdasnya, Napoleon dan pasukannya kalah dan akhirnya mundur menuju wilayah selatan Rusia," kata Prabowo.
Di saat manuver mundur itulah Napoleon dilanda penderitaan terus-menerus akibat gempuran pasukan Rusia. Dia begitu tidak berdaya karena kelaparan dan suhu yang sangat dingin di bawah nol derajat Celsius. Akhirnya Napoleon kembali ke Paris. Ini menjadi pertempuran yang memalukan bagi Prancis.
Prabowo mengatakan, ada yang menyatakan bahwa Kutuzov seperti Roland dalam novel abad pertengahan yang merupakan seorang kesatria tanpa rasa takut, dan menyelamatkan Rusia dari pasukan invasi Napoleon. Berkat jasanya ini, dia dikenal sebagai pahlawan Rusia.
"Perjuangan hidupnya untuk mempertahankan tanah airnya tidaklah mudah, begitu menginspirasi dan menjadi panutan," ujarnya.
Dikutip dari Russia Beyond, Panglima Komando Rusia Jenderal Mikhail Kutuzov dan pejabat tinggi Rusia tidak mudah mengambil keputusan saat pertempuran tersebut. Mereka memperdebatkan, apakah mereka akan membiarkan musuh mereka, Napoleon Bonaparte, untuk memasuki Moskow atau tidak. Bagaimana pun, Moskow tetap dianggap kota penting meski saat itu statusnya bukan lagi ibu kota Rusia.
Pertimbangannya, menyerahkan kota Moskow kepada Prancis merupakan aib. Di sisi lain, jika memaksakan diri untuk mempertahankannya, maka akan menyebabkan penderitaan lebih lanjut. Apalagi pasukan Rusia saat itu kelelahan dan kehilangan sekitar 45.000 tentara selama Pertempuran Borodino yang berlangsung seminggu sebelumnya.
Namun, dengan banyak pertimbangan, Jenderal Mikhail Kutuzov memerintahkan pasukannya untuk mundur. Dia lebih memprioritaskan penyelamatan pasukannya dari pada mempertahankan Moskow.
Editor: Maria Christina