Kenapa Amerika Selalu Ikut Campur Urusan Negara Lain? Ini Penjelasan Para Pakar
Perang-perang tersebut, yang sebagian besar mengatasnamakan demokrasi, kebebasan, dan hak asasi manusia (HAM), justru merupakan campur tangan dalam urusan dalam negeri negara lain, yang mengakibatkan kematian dan kehancuran di Timur Tengah, Amerika Latin, dan Eropa Timur.
Pasukan NATO yang dipimpin AS melancarkan serangan udara terus-menerus selama 78 hari terhadap Yugoslavia. Hasilnya lebih dari 8.000 warga sipil tewas atau terluka dan hampir 1 juta orang mengungsi.
Perang yang dilancarkan AS di Afghanistan menewaskan sekitar 50.000 warga sipil Afghanistan dari tahun 2001 hingga pertengahan April 2020 dan menyebabkan sekitar 11 juta orang menjadi pengungsi. Selain itu pertumpahan darah selama bertahun-tahun telah menewaskan lebih dari 200.000 warga sipil Irak dan menyeret Libya ke dalam kekacauan lebih besar.
Mantan Presiden AS Jimmy Carter pada 2019 mengatakan, AS adalah negara yang paling suka berperang dalam sejarah dunia. Dia juga mengatakan negaranya hanya menikmati 16 tahun perdamaian dalam 242 tahun sejarahnya.
Dalam Journal of Conflict Resolution berjudul 'Introducing the Military Intervention Project: A New Dataset on US Military Interventions, 1776–2019' dijelaskan, tujuan umum AS ikut campur atau mengintervensi negara lain bisa dimaknai negatif hingga positif, yaitu: