Israel Dilaporkan Akan Serang Fasilitas Nuklir Iran, Presiden Pezeshkian: Kita Bangun Lagi!
Laporan tersebut merujuk dua opsi serangan potensial, masing-masing melibatkan militer AS. Peran militer AS adalah memberikan dukungan pengisian bahan bakar udara serta informasi intelijen, pengawasan, dan pengintaian".
The Wall Street Journal (WSJ) sebelumnya juga mengangkat laporan serupa.
Presiden AS Donald Trump memberlakukan kembali tekanan maksimum terhadap Iran yang disebutnya berusaha mengembangkan senjata nuklir. Namun Trump juga memberi kesempatan Iran untuk mencapai kesepakatan yang baru soal program nuklir.
"Saya ingin kesepakatan dengan Iran tentang non-nuklir. Saya lebih suka itu daripada mengebom habis-habisan," kata Trump, kepada The New York Post, seraya menegaskan jika kesepatakan itu tercapai maka Israel tak perlu menyerang fasilitas nuklir Iran.
Iran dan Israel terlibat saling serang pada 2024 untuk pertama kali, dipicu konflik di Timur Tengah seperti perang di Gaza serta Lebanon.
Iran pertama kali menyerang Israel pada 14 April sebagai pembalasan atas pengeboman kantor misi diplomatiknya di Damaskus, Suriah, 2 pekan sebelumnya.
Setelah itu Iran kembali menyerang Israel pada 1 Oktober sebagai pembalasan atas pembunuhan pemimpin Hamas Ismail Haniyeh di Teheran dan pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah di Beirut.
Israel kemudian membalas serangan tersebut pada 26 Oktober, menargerkan beberapa fasilitas militer, menewaskan empat prajurit.
Editor: Anton Suhartono