Harga Minyak Naik, Rupiah Melemah, Barel Sulit Dicari: Bagaimana Strategi Indonesia Seharusnya?
Bagi Indonesia, persoalan ini menjadi berlapis. Harga minyak yang tinggi akan memperbesar beban impor energi. Rupiah yang melemah akan membuat setiap barel minyak terasa lebih mahal dalam APBN dan neraca perdagangan.
Jika Brent berada di sekitar 108 dolar AS per barel dan kurs rupiah sekitar 17.400 per dolar AS, maka secara kasar harga minyak mentah sudah berada di atas 1,8 juta rupiah per barel sebelum biaya pengolahan, pengiriman, asuransi, distribusi, pajak, dan margin.
Ini menjelaskan mengapa tekanan minyak global mudah menjalar menjadi tekanan subsidi, harga BBM, biaya logistik, tarif transportasi, dan inflasi pangan.
Masalahnya bukan hanya crude oil. Produk turunan seperti diesel, bensin, avtur, LPG, dan naphtha jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari hari. Jika crude masih tersedia tetapi produk olahan tersendat, masyarakat tetap merasakan krisis. Pesawat membutuhkan avtur, nelayan membutuhkan solar, rumah tangga membutuhkan LPG, petani membutuhkan pupuk yang rantai produksinya terkait energi.
Oleh Karena itu, availability produk energi sering kali lebih menentukan stabilitas ekonomi daripada harga crude oil semata. Indonesia tidak boleh membaca situasi ini dengan mentalitas “selama harga belum meledak, berarti aman.”