Harga Minyak Naik, Rupiah Melemah, Barel Sulit Dicari: Bagaimana Strategi Indonesia Seharusnya?
Achmad Nur Hidayat
Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta
PERTANYAAN paling penting hari ini bukan lagi sekadar, “Berapa harga minyak mentah dunia?” Pertanyaan yang lebih mendesak adalah, “Apakah minyak itu benar benar tersedia, dan berapa biaya yang harus dibayar Indonesia ketika rupiah sedang lemah?”
Pasar energi global kini sedang menghadapi dua tekanan sekaligus: Harga minyak yang masih tinggi dan ketersediaan barel fisik yang makin ketat.
Bagi Indonesia, tekanan ini menjadi lebih berat karena seluruh impor minyak dan BBM pada akhirnya dihitung dalam dolar AS.
Data terbaru menunjukkan tekanan itu nyata. Pada perdagangan 6 Mei 2026, Brent turun 1,1 persen ke sekitar 108,64 dolar AS per barel, sementara WTI turun 1,6 persen ke sekitar 100,60 dolar AS per barel setelah muncul harapan kemajuan kesepakatan AS dan Iran. Namun sehari sebelumnya, WTI masih ditutup di sekitar 104,22 dolar AS per barel. OPEC Basket juga masih berada di level tinggi, yakni sekitar 108,34 dolar AS per barel pada 29 April 2026.
Di sisi kurs, rupiah berada dalam tekanan serius. JISDOR Bank Indonesia tercatat 17.425 per dolar AS pada 5 Mei 2026, sementara kurs transaksi BI pada tanggal yang sama menunjukkan kurs jual Rp17.454, kurs tengah Rp17.368 dan kurs beli Rp17.281 per dolar AS. Di pasar, rentang USD/IDR pada 6 Mei bergerak sekitar Rp17.376 sampai Rp17.415.