Hantavirus di Kapal Pesiar Atlantik: Haruskah Publik Panik?
Achmad Nur Hidayat
Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta
PERTANYAAN paling penting dari kabar hantavirus di kapal pesiar Atlantik bukan sekadar, “Apakah virus ini akan menjadi pandemi baru?" Pertanyaan lebih tepat adalah, “Mengapa sebuah penyakit yang umumnya berasal dari tikus bisa membuat satu kapal modern menjadi ruang kecemasan global, dan bagaimana publik harus menyikapinya tanpa panik?”
Laporan terbaru awal Mei 2026 menyebut, kapal ekspedisi MV Hondius, yang berlayar dari Argentina menuju kawasan Atlantik Selatan hingga Cape Verde, menghadapi dugaan wabah hantavirus. Sejumlah laporan internasional menyebut tiga penumpang meninggal dan beberapa orang lain sakit, dengan investigasi masih berjalan untuk memastikan hubungan langsung seluruh kematian dengan hantavirus.
Kantor berita Associated Press (AP) melaporkan, kapal membawa hampir 150 orang dan sempat menunggu bantuan di lepas pantai Cape Verde, sementara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terlibat dalam koordinasi respons lintas negara. Di sinilah rumusan masalahnya. Hantavirus bukan penyakit baru, bukan pula virus yang lazim menyebar cepat dari manusia ke manusia seperti influenza atau Covid-19.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menjelaskan, hantavirus terutama menyebar melalui rodensia, khususnya paparan terhadap urine, feses, air liur, atau gigitan hewan pengerat yang terinfeksi. CDC juga menegaskan bahwa hantavirus pada umumnya tidak menyebar dari orang ke orang. Namun, ketika penyakit langka muncul di kapal pesiar, ruang tertutup, mobilitas internasional, dan ketidaktahuan publik berpadu menjadi bahan bakar kepanikan.
Bukan Panik melainkan Literasi Risiko
Kita perlu memandang hantavirus seperti api kecil di gudang kering. Api itu tidak otomatis membakar seluruh kota, tetapi jika gudang penuh bahan mudah terbakar, ventilasi buruk, dan orang orang tidak tahu letak alat pemadam, risikonya membesar.