“Mulai sekarang, tentara kami tidak lagi terikat dengan Perjanjian Militer Korut-Korsel 19 September. Kami akan menarik langkah-langkah militer yang diambil untuk mencegah ketegangan dan konflik militer di semua bidang termasuk darat, laut, dan udara, serta mengerahkan angkatan bersenjata lebih kuat dan perangkat keras militer tipe baru di sepanjang Garis Demarkasi Militer,” bunyi pernyataan Kemhan Korut.
Korsel Beri Tindakan Tegas usai Korut Luncurkan Satelit Mata-Mata
Korut meluncurkan satelit mata-mata pada Selasa lalu dalam percobaan ketiga. Peluncuran kali ini, menggunakan roket berteknologi rudal balistik, sukses menempatkan satelit tersebut ke orbitnya. Dua peluncuran sebelumnya gagal setelah roket meledak di udara.
Keberhasilan peluncuran roket kali ini memicu spekulasi bahwa Korut mendapat teknologi dari Rusia. Seperti diketahui bulan lalu Pemimpin Korut Kim Jong Un berkunjung ke Rusia dan bertemu Presiden Vladimir Putin. Kim juga mengunjungi fasilitas luar angkasa Rusia. Putin berjanji akan membantu Korut membangun teknologi luar angkasanya.
Korut Luncurkan Satelit Mata-Mata, Jepang dan Korsel Keluarkan Peringatan Waspada
Para pejabat Korsel mengatakan, peluncuran satelit Korut kemungkinan besar melibatkan bantuan teknis Rusia di bawah kerja sama imbal balik. Korut mendapat teknologi luar angkasa Rusia, sementara Rusia menerima jutaan peluru artileri ke Rusia untuk perang di Ukraina.
Rusia dan Korut berkali-kali menepis telah menjalin kerja sama militer. Meski demikian kedua pihak sepakat membangun kerja sama lebih dalam, termasuk di bidang satelit.
Editor: Anton Suhartono