Fakta Tambang Batu Safir di Madagaskar, Salah Satu Penghasil Safir Terbaik di Dunia
Batu permata yang ditemukan di wilayah selatan Madagaskar berasal dari metamorf dan cenderung berwarna biru murni. Sejak tahun 2005, Madagaskar mengalami penurunan dalam industri safir mereka karena pemerintah memberlakukan larangan sementara untuk mengekspor safir.
Sejak itu, pemerintah telah mencoba banyak jalur regulasi untuk memastikan bahwa sumber daya negara dan rakyat dikelola dan dilindungi.
Gelombang kedua penambangan batu safir di negara ini terjadi pada tahun 2016, ketika deposit batu safir yang lebih besar ditemukan di daerah keanekaragaman hayati yang dikenal sebagai Koridor Ankeniheny-Zahamena.
Lebih dari 100 batu permata dengan berat lebih dari 50 karat ditemukan dalam waktu enam bulan dari gelombang kedua tersebut.
Sayangnya, serbuan penambang ke lokasi yang dilindungi tersebut berdampak buruk pada lingkungan.
Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Gemological Institute of America (GIA), lebih dari 50.000 penambang ilegal datang untuk mencari kekayaan mereka di dalam tambang.
Dampaknya sangat dahsyat dalam merusak lingkungan. Para penambang membabat sekian banyak lahan di kawasan hutan yang dilindungi itu.
Selama ini, Madagaskar menghasilkan hampir setengah dari total produksi batu safir dunia dengan kualitas terbaik.
Hal ini diungkapkan oleh Michael Arnstein, Presiden The Natural Sapphire Company, sebuah perusahaan yang berkedudukan di AS dan bergerak di bidang bisnis batu mulia. Arnstein mengatakan, 70 persen perdagangan safir Madagaskar dikendalikan warga Sri Lanka.
Mereka menyelundupkan batu safir itu kembali ke negara mereka, untuk dipotong dan kemudian dikirim lagi ke luar negeri.
Diyakini, bisnis di Madagaskar ini bernilai 150 juta dollar AS setiap tahun. Meski begitu, angka pastinya sulit diketahui karena industri ini tak diatur dengan baik di sana.
Editor: Komaruddin Bagja