Elite Taliban Dikabarkan Terbelah, Ada Faksi Moderat dan Konservatif?
Baradar menjabat sebagai pemimpin juru runding Taliban selama negosiasi antara kelompok itu dan Amerika Serikat. Perundingan itu pula yang akhirnya membuka jalan bagi penarikan pasukan AS dari Afghanistan—yang rampung pada akhir Agustus lalu, atau dua minggu setelah Taliban menyerbu Ibu Kota Kabul.
Tak lama setelah pengambilalihan Kabul, Baradar menjadi pejabat senior Taliban pertama yang menawarkan kemungkinan pembentukan pemerintah yang inklusif, yang akan menampung kepentingan semua kelompok di negara itu. Akan tetapi, tawaran Baradar itu dikandaskan oleh keputusan Taliban yang menunjuk semua menteri dari kalangan laki-laki dan dari etnik tertentu saja, pekan lalu.
Sebelum itu, Baradar juga sempat dikabarkan sebagai kandidat kuat presiden yang baru di Afghanistan. Namun, lagi-lagi rumor itu dipatahkan. Dia hanya kebagian jatah wakil perdana menteri. Sementara, Mullah Mohammad Hasan Akhund—sosok yang kurang begitu populer selama ini—diangkat menjadi perdana menteri.
Terpilihnya Akhund dianggap sebagai tanda lebih lanjut bahwa faksi konservatif yang berhaluan keras di tubuh Taliban telah memenangkan pertarungan internal. Sebagai indikasi lainnya, bendera putih Taliban kini dikibarkan di atas Istana Presiden di Kabul, menggantikan bendera nasional Afghanistan.
Juru Bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, membantah adanya keretakan dalam kepemimpinan di kelompok itu. Pada Selasa (14/9/2021) lalu, Menteri Luar Negeri Taliban, Amir Khan Mutaqi, juga membantah laporan semacam itu dan menyebutnya sebagai propaganda pihak luar saja.