Biografi Mahatma Gandhi, Tokoh Sederhana dan Cinta Perdamaian dari India
Setelah menyelesaikan studinya dan mendapat gelar pengacara, Gandhi pulang ke India pada bulan Juli 1891, di mana, kepulangannya saat itu terasa menyakitkan karena ibunya sudah meninggal selama ia di London. Lalu, ia pergi ke Bombay (sekarang Mumbai) untuk mencari pekerjaan. Sayangnya, dia gagal mendapat pekerjaan di pengadilan dan bahkan tidak berhasil menjadi seorang guru di sekolah menengah.
Pada akhirnya, ia kembali ke Rajkot untuk mencari nafkah sebagai penyusun petisi bagi pihak terpidana. Pekerjaan itu rupanya mendapat respon tidak baik dari seorang perwira Inggris setempat. Untungnya di tahun 1893, ia menerima tawaran kontrak satu tahun yang baginya tak terlalu menarik di sebuah perusahaan India di Natal, Afrika Selatan.
Gandhi menempati Afrika Selatan selama bertahun-tahun lamanya. Selama dua dekade, hanya satu kali ia pulang ke tanah air dan hanya selama setahun bersama dua anak bungsu dari empat anaknya yang lahir di Rajkot. Kemudian, ia mendalami perannya sebagai aktivis politik dan sosial.
Gandhi mengalami diskriminasi rasial di Afrika Selatan oleh hakim Eropa di pengadilan Durban yang memintanya untuk melepas sorban dan Gandhi menolak, lalu meninggalkan ruang sidang. Selang beberapa saat kemudian, di perjalanannya ke Pretoria, tanpa omongan apapun, ia diusir dari gerbong kereta api kelas satu dan dibiarkan kedinginan di stasiun kereta api di Pietermaritzbug. Kemudian suatu hari, Gandhi dipukuli oleh pengantar pos berkulit putih dengan alasan karena ia tidak mau menggunakan alas kaki untuk berjalan. Ia juga dilarang masuk ke hotel yang disediakan ‘hanya untuk orang Eropa’.
Aksi penghinaan itu terjadi sehari-hari pada para pedagang dan buruh India di Natal yang menanggapinya dengan pasrah. Gandhi tidak tinggal diam, Ia kesal. Sejak saat itu, Gandhi tidak akan menerima bentuk penghinaan maupun ketidakadilan apapun yang datang padanya dan akan mempertahankan martabatnya sebagai laki-laki dari India.