Arab Saudi Umumkan Pembentukan Koalisi Global Baru untuk Dirikan Negara Palestina
Pangeran Faisal mengatakan, perang yang sedang berlangsung telah menyebabkan bencana kemanusiaan yang menghancurkan akibat kejahatan orang-orang Israel maupun oleh Negara Israel sendiri di Tepi Barat, Masjid al-Aqsa, dan tempat-tempat suci umat Islam dan Kristen lainnya.
Pangeran Faisal juga menekankan bahwa hak untuk membela diri--yang selalu dijadikan dalih oleh Israel dalam operasi militernya--tidak membenarkan pembunuhan puluhan ribu warga sipil dan pemindahan paksa mereka dari kampung halaman mereka. Berbagai tindakan oleh militer Israel seperti penggunaan kelaparan sebagai alat perang, hasutan, dehumanisasi dan penyiksaan sistematis termasuk kekerasan seksual dan kejahatan terdokumentasi lainnya juga tidak dapat dibenarkan.
Arab Saudi telah berulang kali mengatakan tidak akan menjalin hubungan diplomatik dengan Israel tanpa berdirinya Negara Palestina berdasarkan perbatasan tahun 1967 dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.
Akan tetapi, Israel tidak menunjukkan minat untuk melakukannya. Mayoritas anggota Knesset (Parlemen Israel) memberikan suara menentang Solusi Dua Negara. Sementara pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu secara konsisten menolak berkomitmen untuk melakukannya.
Minggu lalu, Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Muhammad bin Salman (MBS), mengatakan bahwa Riyadh tidak akan mengakui Israel tanpa Negara Palestina. Dia juga mengutuk keras kejahatan pendudukan Israel terhadap rakyat Palestina.
"Kerajaan (Arab Saudi) tidak akan menghentikan kerja kerasnya untuk mendirikan Negara Palestina yang merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya, dan kami menegaskan bahwa Kerajaan tidak akan menjalin hubungan diplomatik dengan Israel tanpa itu," kata MBS dalam pidatonya di hadapan Dewan Syura Penasihat Kerajaan Arab Saudi.
Editor: Ahmad Islamy Jamil