Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Skandal Jeffrey Epstein Guncang Israel, Ungkap Konflik Netanyahu dan Mantan PM Ehud Barak
Advertisement . Scroll to see content

5 Fakta Benjamin Netanyahu, Nomor 4 Perintahkan Gali Terowongan Dekat Masjid Al-Aqsa

Sabtu, 12 November 2022 - 17:34:00 WIB
5 Fakta Benjamin Netanyahu, Nomor 4 Perintahkan Gali Terowongan Dekat Masjid Al-Aqsa
Benjamin Netanyahu dipastikan kembali menjadi perdana menteri Israel. (Grafis: iNews.id/Maspuq Muin)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id Benjamin Netanyahu dipastikan menjabat perdana menteri Israel berikutnya, menggantikan Yair Lapid. Dia semakin mengukuhkan posisi sebagai PM terlama yang pernah berkuasa di Israel.

Politikus Yahudi kelahiran  Tel Aviv, 21 Oktober 1949 itu menjabat PM sejak 1996-2021. Berdasarkan hasil pemilu tahun ini, partainya, Likud, kembali menang. Dia diberi waktu Presiden Isaac Harzog untuk membentuk pemerintahan yang seharusnya tak menemui kendala berarti.

Koalisi yang digalang Netanyahu unggul dengan selisih suara relatif jauh dengan pesaingnya, yakni 64 dari total 120 kursi di parlemen Kneseet.

Berikut beberapa fakta Benjamin Netanyahu, termasuk sepak terjangnya selama menjadi kepala pemerintahan Israel:

1. PM Israel terlama

Netanyahu serta sekutu sayap kanannya memastikan kemenangan suara mayoritas di parlemen. Berdasarkan hasil pemilu, Netanyahu serta sekutu sayap kanannya sudah mengamankan suara mayoritas. Perinciannya Likud mendapatkan 32 kursi gabungan partai ultra-ortodoks 18 kursi, dan Partai Zionisme Religius 14 kursi. Sementara koalisi pesaingnya yang dipimpinan Yair Lapid mengumpulkan 51 kursi.

2. Tak tertarik negosiasi damai dengan Palestina

Tak ada perkembangan signifikan dalam pembicaraan damai Israel-Palestina semasa kepemimpinannya. Bahkan, prospek perdamaian yang sudah dibangun sebelummnya dirusak oleh kebijakan-kebijakannya, seperti pembangunan permukiman di Tepi Barat, penetapan Yerusalem sebagai ibu kota Israel, dan lainnya.

Netanyahu hanya menunjukkan sedikit antusiasme untuk solusi dua negara.

Negosiasi Israel-Palestina yang disponsori Amerika Serikat (AS) terhenti pada 2014, di bawah pengawasannya. Sejak itu, harapan negosiasi semakin sulit.

Perselisihan Netanyahu dengan Presiden AS Barack Obama saat itu menyusahkan banyak warga Yahudi AS yang cenderung liberal. Setelah menjadi PM lagi, Netanyahu harus berurusan dengan presiden dari Partai Demokrat lainnya, Joe Biden. Pemerintahan Biden berulang kali menegaskan dukungannya untuk solusi dua negara.

3. Berdamai dengan 4 negara Arab untuk pertama kali

Di bawah pemerintahannya, Israel menyepakati perdamaian dengan empat negara Arab, yakni Uni Emirat Arab, Bahrain, Sudan, dan Maroko, di bawah Perjanjian Abraham yang ditengani Amerika Serikat.

Dia masih bisa menormalisasi hubungan dengan negara-negara Arab meskipun tetap melancarkan serangan ke Jalur Gaza, Palestina. 

Sejak itu Israel membangun hubungan kerja sama di berbagai bidang dengan negara-negara tersebut, bukan saja di bidang politik.

4. Pernah perintahkan gali terowongan dekat Masjid al-Aqsa

Pada September 1996, Netanyahu memerintahkan Wali Kota Yerusalem Ehud Olmert membuka terowongan di sebelah barat Masjid al-Aqsa. Hal tersebut memicu protes keras warga Palestina hingga mereka ditembaki pasukan Zionis. 

Penggalian yang dilakukan Israel menyebabkan retakan pada bangunan departemen wakaf, dinding selatan dan barat kompleks Masjid al-Aqsa, dan dinding Sekolah al-Ashrafieh yang berada dalam kompleks. 

5. Skandal korupsi

Netanyahu didakwa pada 2019 terkait beberapa kasus korupsi, seperti menerima hadiah dari para pengusaha. Dia juga diduga meminta bantuan taipan media Israel agar mendapat liputan guna memuluskan pencitraan politiknya.

Pada Februari 2021, Netanyahu hadir di pengadilan untuk memberikan pembelaan terkait dakwaan menerima suap, penipuan, dan pelanggaran kepercayaan sebagai pejabat.

Dalam dokumen, kuasa hukum Netanyahu mengatakan, kliennya tidak bersalah atas semua tuduhan itu.

Kasus korupsi yang menjerat Netanyahu memicu demonstrasi besar-besaran di yang memengaruhi karier politiknya. Partai koalisinya kalah dalam pemilu 2021 sehingga harus merelakan jabatan PM kepada Naftali Bennett.

Editor: Ahmad Islamy Jamil

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut