Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Mengenal Perjanjian Nuklir AS-Rusia New START yang Sudah Tak Berlaku
Advertisement . Scroll to see content

3 Jurnalis Rusia Tewas Diduga Terkait Investigasi Tentara Bayaran

Rabu, 01 Agustus 2018 - 17:24:00 WIB
3 Jurnalis Rusia Tewas Diduga Terkait Investigasi Tentara Bayaran
Alexander Rastorguev, salah seorang jurnalis yang tewas dibunuh di Republik Afrika Tengah (Foto: Facebook)
Advertisement . Scroll to see content

MOSKOW, iNews.id - Tiga jurnalis Rusia yang dibunuh pria bersenjata di Republik Afrika Tengah ternyata sedang menyelidiki aktivitas kelompok tentara bayaran yang terkait dengan sosok orang dekat Presiden Vladimir Putin.

Hal itu diungkap seorang pengusaha minyak yang juga mantan bos perusahaan Yukos Oil, Mikhail Khodorkovsky, yang membiayai perjalanan mereka.

"Mereka dalam penyelidikan terhadap tentara bayaran swasta Rusia, khususnya kelompok Wagner," kata Khodorkovsky, dalam pernyataan di situs web-nya, seperti dilaporkan Bloomberg, Rabu (1/8/2018).

Tiga jurnalis itu adalah Orkhan Dzhemal, Kirill Radchenko, dan Alexander Rastorguev.

"Mereka merupakan orang-orang pemberani yang tidak hanya siap untuk mengumpulkan materi dokumenter, tetapi ingin merasakan di telapak tangan mereka," kata Khodorkovsky, menambahkan.

Menurut sumber yang mengetahui masalah ini, Wagner dikontrol oleh Yevgeny Prigozhin yang dikenal sebagai 'tukang masak' Putin. Salah satu perusahaan Prigozhin, Concord Maganement, melayani hidangan untuk Istana Kremlin.

Sementara itu, Prigozhin membantah punya hubungan dengan kontraktor tentara bayaran yang memiliki base camp pelatihan di selatan Rusia. Dia juga membantah mengirim tentara bayaran ke Ukraina dan Suriah.

Tiga jurnalis itu tewas ditembak pada Senin lalu oleh sekelompok pria bersenjata di Kota Sibut, sekitar 300 kilometer dari ibu kota Bungui.

Menurut keterangan kementerian luar negeri Rusia, jenazah ketiganya sudah dibawa ke Moskow. Diplomat Rusia bekerja sama dengan pihak berwenang di Republik Afrika Tengah menyelidiki kasus ini.

Pada Maret lalu, Rusai mengirim persenjataan ringan dan instruktur militer ke Republik Afrika Tengah untuk melatih tentara di sana atas persetujuan dari Dewan Keamanan PBB.

PBB memberlakukan embargo senjata sejak 2013 setelah penguasa di negara itu digulingkan oleh kelompok pemberontak.

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut