Mengenang Titien Sumarni Artis Tercantik Era 1950-an, Ratu Layar Perak Indonesia Favorit Presiden Soekarno
Selain pandai berakting, Titien Sumarni juga memiliki paras cantik dengan ciri khas tahi lalat di atas bibirnya, yang membuatnya mendapat julukan‘Marilyn Monroe Indonesia. Kemudian pada 1954, dia kembali mendapat julukan kehormatan sebagai Ratu Layar Perak berdasarkan angket yang dilakukan oleh beberapa majalah di Tanah Air.
Karier Titien Sumarni semakin berkibar di dunia film. Bahkan, Titien mendirikan perusahaan film sendiri yaitu, Titien Sumarni Motion Pictures. Perusahaan filmnya telah memproduksi sejumlah karya seperti Putri dari Medan yang dibintangi sendiri oleh Titien, Mertua Sinting, Tengah Malam, Sampah, dan Saidjah Putri Pantai.
Titien Sumarni masih terus eksis di dunia film meski dia telah bercerai dari Mustari dan menikah lagi dengan pengusaha asal Sulawesi. Kariernya sebagai aktris juga tetap berjalan meski dia dirumorkan kerap berganti-ganti pasangan dan memiliki anak dari pria yang berbeda-beda.
Film terakhir Titien yakni Djanjiku (1956), sebelum namanya benar-benar menghilang dari dunia perfilman. Sepuluh tahun kemudian, Titien Sumarni dikabarkan meninggal dunia dalam keadaan tragis pada 15 Mei 1966.
Dia diketemukan tergeletak di sebuah bangsal rumah perawatan di kawasan dekat Stasiun Bandung. Titien, yang saat itu berusia 33 tahun, diketahui merupakan pasien dari seorang paranormal bernama Mamih Aceng. Diketahui sebelum meninggal dunia, Titien menderita sakit paru-paru.
Sepanjang berkarier di dunia film hingga meninggal dunia di usia 33 tahun, Titien Sumarni tercatat telah membintangi 30 film Indonesia.
Editor: Elvira Anna