‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menyebutkan,
أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا وَأَنْ لاَ أُعْطِىَ الْجَزَّارَ مِنْهَا قَالَ « نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا ».
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku untuk mengurusi unta-unta qurban beliau. Aku menyedekahkan daging, kulit, dan jilal-nya (kulit yang ditaruh pada punggung unta untuk melindungi dari dingin). Aku tidak memberi sesuatu pun dari hasil sembelihan qurban kepada tukang jagal. Beliau bersabda, “Kami akan memberi upah kepada tukang jagal dari uang kami sendiri”.” (HR. Muslim, no. 1317)
Dari hadits ini, Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Tidak boleh memberi tukang jagal sebagian hasil sembelihan qurban sebagai upah baginya. Inilah pendapat ulama-ulama Syafiiyah, juga menjadi pendapat Atha’, An-Nakha’i, Imam Malik, Imam Ahmad, dan Ishaq.” (Syarh Shahih Muslim, 9:59)
Melalui qurban, umat Islam dapat meneladani keteladanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beramal dan beribadah. Qurban menjadi sarana bagi kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, menunjukkan kepedulian terhadap sesama, serta mengingatkan kita tentang pengorbanan yang harus kita lakukan dalam hidup ini.
Semoga ibadah qurban tahun ini menjadi jalan mendekat kepada Allah, menambah cinta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan semoga setiap jamaah dimudahkan rezekinya untuk menunaikan sunnah mulia ini.