Lanjutan Khutbah I
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Di antara tanda haji mabrur adalah apabila seseorang kembali dari haji dalam keadaan lebih baik dari sebelumnya. Kembali dari haji dalam keadaan tidak cinta dunia dan lebih mengutamakan akhirat.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha’if al-Ma’arif menegaskan bahwa tanda diterimanya ketaatan adalah apabila disambung dengan ketaatan berikutnya. Ibnu Rajab di kitab yang sama menceritakan, salah satu doa yang pernah dipanjatkan Imam Ahmad adalah:
اللهم أَعِزَّنِي بِطَاعَتِكَ وَلَا تُذِلَّنِي بِمَعْصِيَتِكَ
“Ya Allah, muliakanlah aku dengan ketaatan kepadamu dan janganlah hinakan aku dengan bermaksiat kepada-Mu.” (Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha’if al-ma’arifi)
Dan doa yang paling sering dibaca oleh Imam Ibrahim bin Adham adalah:
اللهم انْقُلْنِي مِنْ ذُلِّ الْمَعْصِيَةِ إِلَى عِزِّ الطَّاعَةِ
“Ya Allah pindahkanlah aku dari kehinaan maksiat kepada kemuliaan taat.” (Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha’if al-ma’arifi)
Bahkan ketika dikatakan kepada sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, “Alangkah banyak orang yang berhaji.” Beliau mengatakan,
مَا أَقَلَّهُمْ
“Alangkah sedikit jama’ah haji yang hajinya diterima.” (Mushannaf ‘Abd ar-Razzaq)
Syuraih, salah seorang ulama di kalangan tabi’in mengatakan:
الحَاجُّ قَلِيْلٌ وَالرُّكْبَانُ كَثِيْرَةٌ
“Jamaah haji yang diterima hajinya sedikit walaupun orang yang berangkat untuk menunaikan haji banyak.” (Mushannaf ‘Abd ar-Razzaq)
Sahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan mengenai kerikil yang dilempar jamaah haji di jamarat:
مَا يُقْبَلُ مِنْهُ رُفِعَ، وَمَا لَمْ يُتَقَبَّلْ مِنْهُ تُرِكَ
“Yang diterima darinya diangkat, dan yang tidak diterima ditinggal.” (Diriwayatkan oleh Ishaq bin Rahawaih seperti dituturkan oleh Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam at-Talkhish al-Habir)