Niat Ganti Puasa Ramadhan Tahun Lalu
Selain dianjurkan untuk bertaubat dan meng-qadha puasa yang ditinggalkan, orang tersebut juga diwajibkan untuk membayar fidyah dengan cara memberi bahan makanan pokok (di Indonesia menggunakan beras) kepada fakir miskin. Takarannya adalah sebesar 1 mud atau 7 ons beras per hari sebanyak jumlah hutang puasa Ramadhan yang dimiliki.
Syekh Khatib asy-Syirbini dalam kitab Mughni al-Muhtaj menuliskan:
(وَمَنْ أَخَّرَ قَضَاءَ رَمَضَانَ) أَوْ شَيْئًا مِنْهُ (مَعَ إمْكَانِهِ) بِأَنْ لَمْ يَكُنْ بِهِ عُذْرٌ مِنْ سَفَرٍ أَوْ غَيْرِهِ (حَتَّى دَخَلَ رَمَضَانُ آخَرَ لَزِمَهُ مَعَ الْقَضَاءِ لِكُلِّ يَوْمٍ مُدٌّ)
Artinya: Barang siapa yang menunda qadha' puasa Ramadhan sementara ia mampu untuk melaksanakannya, yakni tidak ada uzur seperti berpergian atau semacamnya, hingga masuk Ramadhan berikutnya maka ia berkewajiban qadha’ serta membayar fidyah 1 mud per hari.
Sebagaimana yang telah dijelaskan, kewajiban mengganti puasa Ramadhan tahun lalu yang ditinggalkan tidak gugur, bahkan bagi orang-orang yang telah membayar fidyah. Adapun tata cara melakukan qadha puasa tersebut sama seperti mengerjakan puasa Ramadhan.
Oleh sebab itu, seorang muslim yang melakukan qadha puasa Ramadhan tahun lalu juga diwajibkan berniat dan meninggalkan segala hal-hal yang dapat membatalkan puasanya.