(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS al-Baqarah 184-185).
Ramadhan bulan penuh semangat dan kontemplatif. Semangat dalam mengerjakan ibadah sehingga kita tidak merasa lelah dan malas melakukan ketaatan terhadap berbagai perintah Allah baik, puasa, shalat, zakat dan shadaqah serta berbagai kebaikan lainnya. Kualitas ibadahnyapun lebih terasa kepada batin sangat kontemplatif lebih khusuk dibandingkan dengan ibadah di bulan lainnya.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Pengalaman beribadah di bulan puasa sangat bermanfaat jika dilanjutkan pada bulan bulan selanjutnya. Diperlukan untuk membingkai kehidupan kita dari berbagai godaan dan halangan. Sebagaimana kita ketahui beragama pada masa sekarang penuh dengan berbagai tantangan. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah merubah sikap kepribadian dan prilaku manusia.
Kemajuan alat komunikasi dan informasi menyebabkan manusia kehilangan waktu, mereka sibuk dengan gawai di tangan masing-masing, kehilangan waktu shalat, kehilangan waktu berdzikir, dan kehilangan waktu berbuat kebaikan.
Hubungan antar manusia tidak lagi akrab secara fisik, personal, dan ukhuwah tapi telah digantikan dengan hubungan secara virtual melalui berbagai media sosial yang sifatnya formal, berjarak dan kaku. Begitu pula informasi agama tidak lagi didapat dari pengajian di majelis taklim atau di madrasah tapi mereka didapatkan di media digital berdesakan dengan waktu dan minat dengan menonton video film dan musik. Dan itu melahirkan kekhawatiran akan keberagamaan masyarakat masa kini yang kurang dalam dan hambar.