Artinya: Aisyah ra berkata, saya kehilangan Rasulullah saw, tiba-tiba beliau berada di Baqi’ sambil mengangkat kepala ke langit. Beliau berkata, apakah engkau takut engkau dizalimi oleh Allah dan Rasul-Nya? Saya menjawab, ya Rasulullah, saya menyangka engkau mendatangi sebagian istri engkau. Beliau bersabda, sesungguhnya Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi turun pada malam Nisfu Sya’ban ke langit dunia, maka Allah swt mengampunkannya lebih banyak dari bulu domba Bani Kalb (HR Imam Ahmad. At-Tirmidzi berkata, Imam Al-Bukhari mendha'ifkan hadits ini).
Dengan demikian, peringatan malam Nisfu Syaban bersumber dari para Tabi’in tanah Syam yang berpedoman pada hadits Nabi SAW. Sebagian ulama menilai perayaan ini berasal dari riwayat Israiliyat (kisah-kisah dari Ahli Kitab yang masuk Islam).
Dalil Seputar Nisfu Syaban
Beberapa hadis menerangkan keutamaan Nisfu Syaban, namun ada yang shahih, dhaif, bahkan palsu. Berikut beberapa hadis populer di masyarakat:
Pertama:
إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ مِنْ شَعْبَانَ فَقُوْمُوْا لَيْلَهَا وَصُوْمُوْا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللهَ يَنْزِلُ فِيْهَا لِغُرُوْبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُوْلُ أَلاَ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِيْ فَأَغْفِرَ لَهُ أَلاَ مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلاَ مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلاَ كَذَا أَلاَ كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ
"Jika datang malam pertengahan bulan Sya’ban, maka lakukanlah qiyamul lail, dan berpuasalah di siang harinya, karena Allah turun ke langit dunia saat itu pada waktu matahari tenggelam, lalu Allah berfirman, ‘Adakah orang yang minta ampun kepada-Ku, maka Aku akan ampuni dia. Adakah orang yang meminta rezeki kepada-Ku, maka Aku akan memberi rezeki kepadanya. Adakah orang yang diuji, maka Aku akan selamatkan dia, dst…?’ (Allah berfirman tentang hal ini) sampai terbit fajar.” (HR. Ibnu Majah, 1/421; HR. al-Baihaqi dalam Su’abul Iman, 3/378).