Ternyata seperti Ini Pengemasan Vaksin Covid-19 hingga Proses Distribusi
JAKARTA, iNews.id - Program vaksinasi Covid-19 masih terus dilaksanakan hingga sampai ke masyarakat. Pemerintah berupaya untuk memberikan layanan terbaik dengan terus meningkatkan penyuntikan vaksin hingga mencapai target satu juta dalam sehari.
Dalam pendistribusian vaksinasi kepada masyarakat memang memiliki tantangan tersendiri. Lantas, seperti apa pengemasan vaksinasi Covid-19 hingga pendistribusian kepada masyarakat?
Plt Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Maxi Rein Rondonuwu mengatakan, kondisi geografis Indonesia yang luas, dengan jumlah penduduk mencapai 270 juta jiwa dan beriklim tropis menjadi tantangan utama dalam pelaksanaan vaksinasi Covid-19. Hal ini terutama berkaitan dengan proses distribusi dan jaminan keamanan vaksin hingga ke penerima.
“Dalam pedistribusian vaksin, dibutuhkan rangkaian distribusi suhu dingin (cold chain) di mana vaksin harus selalu berada dalam kondisi suhu dingin tertentu dalam wadah penyimpanannya untuk menjaga kualitas dan efektivitas vaksin," kata dr Maxi melalui keterangan virtualnya belum lama ini.
Vaksinasi Drive Thru di Kuta Bali, Pemkab Badung Sasar 2.000 Warga
Menurut dr Maxi, beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyusun rencana distribusi vaksin adalah ketersediaan kendaraan, ketersediaan dan kapasitas sarana/alat pendingin sesuai karakteristik vaksin, jadwal distribusi, level stok maksimum dan minimum vaksin, dan juga waktu interval vaksin sesuai dengan jenis vaksin.
“Selama proses distribusi harus dipastikan kualitas vaksin Covid-19 terjaga dengan baik. Untuk itu harus dilakukan pemantauan vaksin sepanjang proses distribusi," kata dia.
Sektor Pariwisata Bali Dibuka, Layanan Vaksinasi Covid-19 Dipercepat
Dari Biofarma lanjutnya, ke provinsi digunakan Bio Tracking dan Bio Detect yang dilengkapi freeze alert, alur perjalanan serta kualitas mutu vaksin selama perjalanan dengan memberikan peringatan dini ketika ada perubahan suhu yang signifikan dan dapat berdampak terhadap kualitas vaksin.
Kristoforus Hendra Djaya, Tim Advokasi Vaksinasi Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), sependapat, hal utama yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan distribusi vaksin adalah bagaimana memastikan vaksin yang diterima masyarakat kualitasnya terjaga selama pengiriman agar vaksin tetap efektif.
Presiden Jokowi bersama Para Menteri Tinjau Vaksinasi Seniman dan Budayawan
“Harus ada sistem distribusi yang terencana dengan baik serta tentunya didukung oleh ketersediaan wadah penyimpanan vaksin selama distribusi cold chain yang dapat diandalkan sesuai dengan spesifikasi yang dibutuhkan,” katanya.
Dia menjelaskan, salah satu tantangan dan kendala yang ditemui selama ini di antaranya keengganan masyarakat untuk ikut program vaksinasi Covid-19 terkait dengan isu-isu yang beredar seperti vaksin kadaluarsa atau rusak saat diterima.
Tinjau Vaksinasi Seniman, Jokowi: Kita Harus Eling Lan Waspodo
"Untuk itu kami dari Tim Advokasi Vaksinasi Covid-19 PB IDI terus-menerus memberikan edukasi mengenai manfaat dan keamanan vaksin Covid-19,” ujar Dr. Kristo.
dr. Irwan Heriyanto, MARS, Chief of Medical Halodoc mengatakan, peran swasta terutama yang memiliki sumberdaya dan kompetensi akan mendorong percepatan keberhasilan program nasional vaksinasi Covid-19.
“Kami menyediakan layanan drive-thru untuk vaksinasi bekerjasama dengan GoJek yang menyediakan layanan transportasi melalui GoCar bagi kelompok rentan yang tidak memiliki kendaraan. Untuk mendapatkan layanan ini hanya perlu mengunduh aplikasi Halodoc dan mengikuti petunjuk di aplikasi tersebut,” katanya.
dr. Bettia M.Bermawi,Sp.PK, Kepala Bidang Tata Laksana dan Compliance Sentra Vaksinasi Serviam, sebagai salah satu pelaksana vaksinasi Covid-19 mempunyai program utama vaksinasi lansia.
Dalam melakukan vaksin dr. Bettia menjelaskan lansia perlu pendampingan, edukasi yang jelas dan sering mempunyai komorbid sehingga sebaiknya tidak menunda vaksinasi jika lansia dalam kondisi layak vaksin. “Diperlukan juga peran serta dari para pamong, tokoh masyarakat sosialisasi pada anak atau caregiver sehingga lansia bisa diajak datang untuk divaksin,” ujarnya.
Terkait distibusi vaksin, dr Bettia mengaku menghadapi sejumlah tantangan teknis yaitu menjaga vaksin tetap pada suhu yang optimal, stabil dan aman. Saat ini, Sentra Vaksinasi Serviam menggunakan IVC Technoplast sebagai wadah penyimpan vaksin Covid-19, yang menurutnya bisa menjamin keamanan vaksin saat pendistribusian mengingat suhu yang stabil dan adanya alarm jika terjadi peningkatan suhu.
Direktur Utama PT Trisinar Indopratama (Technoplast), Ellies Kiswoto mengungkapkan Technoplast telah memproduksi Insulated Vaccine Carrier (IVC) berteknologi tinggi yang memenuhi kriteria sistem distribusi cold chain untuk vaksin Covid-19. IVC Technoplast mampu memberikan kestabilan suhu ruangan antara 2 hingga 8 derajat Celcius dalam waktu 48 jam, meski suhu di luar ruangan mencapai 30 derajat celcius.
Dia mengatakan, IVC Technoplast dilengkapi teknologi IOT yang bisa menjamin keamanan kualitas vaksin selama proses pendistribusian ke lokasi tujuan. IVC Technoplast juga telah dinyatakan lolos uji oleh balai sertifikasi Sucofindo.
“Teknologi IOT ini tidak sekadar mendeteksi suhu dan lokasi saja, tetapi juga memberikan informasi seperti tanggal pengiriman vaksin dari produsen, jumlah vaksin, real time lokasi, track record suhu, nama kurir, identifikasi pesawat, dan nomor plat mobil. Setiap vaksin box memiliki QR code tersendiri," kata dia.
Editor: Vien Dimyati