Rambut Rontok Jadi Alarm Tubuh, Selain Genetik, Stres dan Gaya Hidup Jadi Penyebab
"Siklus pertumbuhan rambut ditandai dengan aktifnya kembali folikel rambut yang memicu kemunculan baby hair. Kehadiran baby hair yang kerap terabaikan menjadi bukti nyata bahwa di balik setiap kerontokan, selalu ada proses pemulihan dan kekuatan baru yang sedang bertumbuh," ujar Shakina Dharma, Demand Generation Lead for Premium Hair and Innovation dalam keterangan pers dilansir Selasa (9/6/2026).
Dia mengingatkan kunci mengatasi rambut rontok berawal dari kulit kepala yang sehat sehingga rambut dapat tumbuh lebih kuat.
Shavira Agatha, seorang pelari dan entrepreneur mengungkapkan pengalamanya dalam mengatas rambur rontok. "Tiap pegang rambut, tiap keramas, selalu ada rambut rontok yang banyak banget. Sebagai perempuan, itu bikin down dan insecure sampe enggak mau keluar rumah," katanya.
"Still, selama ada yang bisa aku lakukan untuk memperbaiki, aku akan lakukan. Aku mulai rawat rambut pakai Dove dengan konsisten, dan yang enggak kalah penting, aku dokumentasiin progresnya. Di sinilah fokusku mulai berubah. Perlahan, aku liat baby hair kecil mulai tumbuh di hairline," ujar Shavira Agatha.
Bagi Shavira tumbuh lebih dari sekadar rambut sehat. "Selama kita hidup, kita akan terus tumbuh. We just need to know where to look to find growth," ucapnya.
Sementara Asida Dara, pekerja industri kreatif mengungkapkan stres menjadi salah satu masalah pada rambutnya. "Ada masanya juga aku enggak punya waktu untuk diri sendiri, terutama ketika deadline menumpuk di satu waktu. Di sini, stres juga menumpuk dan rambutku lah yang pertama kali merasakannya," kata Asida.