Gejala Hantavirus yang Harus Diwaspadai, Nyeri Otot hingga Sakit Kepala
WHO mencatat tingkat fatalitas HPS dapat mencapai hampir 50 persen.
Sementara pada jenis Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), gejala dapat berkembang menjadi gangguan ginjal, tekanan darah rendah, hingga perdarahan.
Praktisi kesehatan menyebut, gejala Hantavirus kerap disalahartikan sebagai influenza, Covid-19, atau infeksi virus biasa. Karena itu, riwayat paparan tikus menjadi petunjuk penting dalam diagnosis.
Penularan Hantavirus paling sering terjadi melalui urine, kotoran, atau air liur tikus yang terhirup manusia dalam bentuk partikel debu.
Risiko tertinggi biasanya dialami orang yang membersihkan gudang, rumah kosong, loteng, atau area lembap yang dipenuhi tikus tanpa menggunakan masker dan sarung tangan.
Hingga kini belum ada vaksin maupun obat antivirus khusus untuk Hantavirus. Penanganan medis lebih difokuskan pada perawatan intensif dan bantuan pernapasan.
Karena itu, para ahli mengingatkan masyarakat untuk segera memeriksakan diri jika mengalami demam dan nyeri otot setelah kontak dengan lingkungan yang berpotensi terkontaminasi tikus.
Editor: Muhammad Sukardi