Film Merah Putih One For All: Biaya Produksi Rp6,7 Miliar dan Banjir Kritik Netizen
Beberapa warganet bahkan menyebut film ini sebagai “aib negara” atau “film gorengan” karena dianggap gagal merepresentasikan semangat nasionalisme dengan baik. Akun X seperti @syahiduzzxxx menyindir film ini sebagai “metafora nasionalisme setengah matang,” sementara @68Axx menduga bahwa kualitas buruk film ini sengaja dibuat untuk pengalihan isu.
Tagar seperti “Proyek Cuci Anggaran” dan “Malu-maluin” pun ramai digunakan, mencerminkan kekecewaan publik terhadap proyek yang seharusnya menjadi kebanggaan nasional.
Di tengah hujan kritik, produser Toto Soegriwo memberikan tanggapan yang dianggap kurang memadai oleh netizen. Melalui akun Instagram pribadinya, ia hanya menulis, “Senyumin aja. Komentator lebih pandai dari pemain. Banyak yang mengambil manfaat juga kan? Postingan kalian jadi viral kan?” Pernyataan ini justru memicu reaksi negatif lebih lanjut, dengan netizen menilai Toto bersikap denial dan tidak serius menanggapi kritik konstruktif. Beberapa bahkan meminta film ini ditarik dari peredaran agar tidak “memalukan” industri animasi Indonesia.
Selain itu, judul Film Merah Putih One For All juga menjadi bahan kritikan. Banyak netizen mempertanyakan penggunaan frasa berbahasa Inggris “One For All” dalam film yang mengusung tema nasionalisme. Menurut mereka, judul ini kurang mencerminkan identitas lokal dan terkesan asing untuk sebuah karya yang ingin mengedepankan semangat kebangsaan. Kontroversi ini menambah daftar panjang keluhan terhadap film tersebut.
Kontroversi Film Merah Putih One For All menimbulkan kekhawatiran bahwa citra animasi lokal akan tercoreng. Dengan standar yang telah ditinggikan oleh karya-karya seperti Jumbo dan Battle of Surabaya, publik kini memiliki ekspektasi tinggi terhadap produksi animasi Indonesia.