Film Merah Putih One For All: Biaya Produksi Rp6,7 Miliar dan Banjir Kritik Netizen
Menurut sutradara terkenal Hanung Bramantyo, anggaran Rp6,7 miliar hanya cukup untuk tahap previsualization (previs), yaitu storyboard berwarna yang bergerak sebagai panduan animator, bukan untuk menghasilkan film animasi layar lebar yang siap tayang.
Dalam komentarnya di media sosial, Hanung menyebutkan bahwa film animasi berkualitas biasanya membutuhkan anggaran minimal Rp30-40 miliar dan waktu produksi 4-5 tahun. Pernyataan ini memicu spekulasi bahwa Film Merah Putih One For All mungkin tidak dikerjakan dengan proses kreatif yang matang, melainkan terburu-buru untuk memenuhi tenggat perayaan Hari Kemerdekaan.
Selain itu, netizen juga menyoroti dugaan penggunaan aset animasi murah dari platform seperti Daz3D. Seorang YouTuber, Yono Jambul, mengungkap bahwa beberapa adegan dalam trailer tampak menggunakan aset seperti “Street of Mumbai” yang dibeli dengan harga belasan dolar.
Hal ini menimbulkan pertanyaan: ke mana larinya anggaran Rp6,7 miliar jika aset visual yang digunakan tergolong murah dan tidak orisinal? Tuduhan seperti “proyek cuci anggaran” pun mulai bermunculan di media sosial, memperburuk persepsi publik terhadap film ini.
Sejak trailer Film Merah Putih One For All dirilis di berbagai platform seperti YouTube Perfiki TV, CGV Kreasi, dan Historika Film, gelombang kritik langsung membanjiri media sosial. Netizen menilai kualitas animasi film ini kaku, dengan detail karakter yang kurang halus, pencahayaan sederhana, dan ekspresi gerakan yang tidak natural. Banyak yang membandingkannya dengan film animasi lokal lain seperti Jumbo, yang berhasil menembus 10 juta penonton dan menetapkan standar tinggi untuk animasi Indonesia.