IHSG Kembali Menguat usai Anjlok, Berpotensi Naik 18 Persen Menuju Fase Normalisasi
Riset tersebut juga mencatat bahwa sepanjang sejarah pasar modal Indonesia, tujuh siklus koreksi besar yang telah selesai pada akhirnya selalu diikuti pemulihan hingga IHSG kembali menembus level puncak sebelumnya dan mencetak rekor baru.
Siklus pertama terjadi pada 2002 ketika pasar terdampak kombinasi pecahnya gelembung saham teknologi (dot-com bubble) dan peristiwa Bom Bali. Pada periode tersebut, IHSG mengalami penurunan hingga 38,8 persen dengan fase penurunan berlangsung sekitar 5,9 bulan.
Siklus kedua terjadi saat Krisis Keuangan Global atau Global Financial Crisis (GFC) 2008 yang dipicu runtuhnya Lehman Brothers. Periode ini menjadi koreksi terdalam dalam sejarah modern pasar modal Indonesia, dengan IHSG anjlok 60,7 persen dalam waktu sekitar 9,6 bulan.
Selanjutnya, pada 2011 pasar menghadapi dampak Krisis Utang Eropa dan gejolak pasar global yang dikenal sebagai Black Monday. Koreksi pada periode ini relatif lebih ringan, dengan penurunan 22 persen dan berlangsung sekitar 2,1 bulan.
Pada 2013, pasar kembali terguncang akibat Taper Tantrum, yakni ketika bank sentral Amerika Serikat memberi sinyal pengurangan stimulus moneter. Peristiwa tersebut mendorong IHSG terkoreksi 23,9 persen selama 3,3 bulan.