Siapa Low Tuck Kwong? Orang Terkaya Indonesia Kalahkan Bos Djarum dan Prajogo Pangestu
Bisnis batu bara baru dilakoninya pada 1987 yang pada saat itu sedang tumbuh di Indonesia. Jaya Sumpiles menggandeng beberapa penambang untuk melakukan pemindahan, penambangan, dan pengangkutan lapisan penutup.
Setelah memiliki pengalaman yang cukup di industri batu bara serta kewarganegaraan Indonesia, pada November 1997 Low membeli konsesi pertamanya, yakni Gunungbayan Pratamacoal di Kalimantan Timur.
Produksi perdana dimulai pada 1998, bertepatan dengan krisis ekonomi di Asia. Pengiriman pertama batu bara justru mencatatkan kerugian 3 dolar AS per ton karena merosotnya harga komoditas tersebut.
Seiring berjalannya waktu, keputusannya melakukan bisnis tersebut tidak salah dan justru berkembang dan menguntungkan. Low kemudian mendapat konsesi dan saham mayoritas di Dermaga Perkasapratama, operator Terminal Batu Bara Balikpapan, salah satu yang terbesar di Indonesia, dengan kapasitas stockpile 1,5 juta ton atau 24 juta ton per tahun dan dapat diperpanjang.
Low pada 2004 memutuskan mengonsolidasikan asetnya dan mendirikan Bayan Resources. Nama perusahaannya diambil dari nama kabupaten setempat. Empat tahun setelahnya, Bayan mencatatkan saham atau listing di Bursa Efek Indonesia (BEI).