Pedagang Makanan Pilih Naikkan Harga dan Kurangi Porsi di Tengah Mahalnya Sembako
Bahkan beberapa diantaranya ada yang membawa bekal dari rumah. Ini terlihat dari beberapa pelanggannya yang kemudian hanya membeli minuman saat makan bersama beberapa temannya di warungnya.
Hal ini termasuk ketika harga telur merangkak naik, Tuti mengakui dirinya sempat kebingungan, terlebih kala itu harga telor nyaris serupa dengan harga ayam potong yang berkisar Rp30.000. Saat itu, Tuti terpaksa menaikan tarif porsi per makannya.
Jika biasanya makan dengan telur dadar plus sayur hanya Rp10.000, Tuti kala itu terpaksa menaikkan harga menjadi Rp15.000 hingga Rp17.000 untuk satu porsi serupa. Ditambah dengan es teh manis, harganya satu porsi makan Tuti menjadi Rp20.000.
Meski demikian, dia mengakui hal itu tak mempengaruhi minat pelangganya menyantap makanan di warungnya. "Semua pelanggan sini bilang telur dadar saya beda, tau dah bedanya apa," ucap Tuti.
Ayam geprek tak pedas
Selain meningkatnya harga telur dan daging ayam, kenaikan harga cabai beberapa waktu lalu membuat beberapa pedagang ayam geprek mengurangi rasa pedasnya. Jika biasanya untuk satu pembuatan sambel membutuhkan lebih dari 30 butir cabai, namun kali ini hanya 20-an.