Kisah Sukses Bejo, Penyandang Disabilitas Jadi Pengusaha Konveksi
Hasil usahanya biasanya akan disetorkannya ke konter handphone yang berada di lantai satu salah satu department store.
Selang satu tahun, pada tahun 2005 Bejo membuka usaha kembali. Kali ini Bejo bersama dengan teman sekolahnya membuka usaha konter handphone. Tapi semaunya hilang karena gempa yang terjadi pada tahun 2006.
Meski pun kekurangan secara fisik, Bejo tetap berusaha dan melakoni pekerjaan sebagai relawan penanganan pascabencana. Bejo yang bekerja dengan ikhlas tanpa mengharapkan gaji merasa kaget karena menerima uang hasil menjadi relawan sebesar Rp600.000 yang kemudian dibagikannya kepada para korban gempa.
Kemudian pada tahun 2009, Bejo membuka usaha sablon kecil-kecilan seperti dagadu dengan upah Rp400 per item. Sembari membuka usaha sablon, dia juga menjual onde-onde serta menjadi relawan. Tentu hal ini membuat Bejo kelalahan hingga terkena gejala bronchitis.
Usai beristirahat, pada akhir 2010 Bejo kembali mencoba usaha dengan membuka usaha produksi nata de coco dengan nama Trinaco yang diambil dari nama istrinya, Tri Kustina.