Seni ini tak hanya sebagai kegiatan olah raga tetapi juga untuk pembentukan watak. Watak ksatria yang dimaksud adalah empat nilai yang diperintahkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I untuk dijadikan pegangan oleh rakyat Yogyakarta, yaitu sawiji, greget, sengguh, dan ora mingkuh.
Tak heran, seni memanah jemparingan berbeda dengan panahan lain yang berfokus pada kemampuan pemanah membidik target dengan tepat. Selain itu, bila olahraga panahan biasanya dilakukan sambil berdiri, jemparingan dilakukan dalam posisi duduk bersila. Makna lain duduk bersila adalah bahwa di hadapan Tuhan semua sama.
Pemanah jemparingan juga tidak membidik dengan mata, akan tetapi memposisikan busur dihadapan perut sehingga bidikan didasarkan pada perasaan pemanah. Dengan mengunjungi desa ini, kamu bisa merasakan sensasi memperagakan seni Jemparingan ini.
Kesenian Jathilan
Di desa ini, kamu juga bisa menikmati salah satu kekayaan budaya yang adiluhung yakni kesenian Jathilan. Ini merupakan salah satu tarian tertua di tanah Jawa. Tarian ini sering disebut Kepang atau Kuda Lumping. Kesenian yang dulunya menjadi pentas seni antar dusun itu beregenerasi hingga kini digiatkan dalam berbagai pentas wisata desa Tinalah.
Aplikasi Mbak Dewi
Di desa Tinalah wisatawan juga bisa memanfaatkan Aplikasi Mbak Dewi. Aplikasi ini menggunakan teknologi kecerdasan buatan yang dinamakan teknologi image recognition. Dengan teknologi ini, peserta kelas alam dapat melakukan foto pada benda alam dan secara otomatis informasi mengenai benda alam yang difoto akan muncul pada aplikasi Dewi Tinalah.